Pamekasan (beritajatim.com) – Tidak ada yang tidak mungkin atau Nothing Imposible, dijadikan sebagai grand tema ajang tahunan bertajuk internasional event Pekan Ngaji 7 Pondok Pesantren Mambaul Ulum Bata-Bata, Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Pamekasan.
Grand tema pada ajang yang digelar dalam rentang waktu 10 hari kedepan, terhitung mulai Rabu hingga Jum’at (5-14/1/2022) mendatang. Tentunya tidak lepas dari gagasan dan komitmen jika pesantren menjadi titik epicentrum dari beragam perkembangan keilmuan, kemajuan dan peradaban.
Hal itu terjadi karena pondok pesantren dinilai tidak lagi gagap terhadap berbagai perkembangan, sekalipun tanpa harus meninggalkan apapun yang menjadi ciri khas atau karakteristik pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan.
Bahkan saat ini, pesantren juga tidak lagi mengambil jarak terlalu jauh terhadap perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) kerena dianggap sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi. Sehingga berbagai upaya integratif terus dilakukan guna membekali para santri saat terjun ke masyarakat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pekan-ngaji”]
Kondisi tersebut merupakan sebuah kesadaran kolektif yang telah lama hilang, sehingga pesantren harus kembali mempersiapkan para santri untuk menghadapi perubahan dan perkembangan zaman. Bukan hanya dengan pengetahuan semata, tetapi juga dengan kemampuan dan kepribadian yang baik dan bijaksana.
Pesantren menjadi salah satu lembaga pendidikan yang komplit karena memadukan kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual. Sekaligus menitik beratkan pada aspek kemampuan dan pengembangan wawasan yang luas, serta konsen terhadap aspek pembentukan karakter dan kepribadian demi mewujudkan cita-cita insan kamil dengan akhlaqul karimah.
Hal tersebut diharapkan dapat melahirkan generasi yang tidak hanya pintar dan cerdas semata, tetapi juga melahirkan generasi yang baik dan benar. Dengan kata lain bahwa pesantren tidak hanya berbicara soal kecerdasan, skill, sains dan pengetahuan semata. Tetapi juga berbicara tentang dampak dan manfaat bagi masyarakat sekitar, termasuk bagi agama, bangsa dan negara.
Berangkat dari fenomena tersebut, Pesantren Bata-Bata sebagai salah satu pesantren terbesar di Madura, memiliki ikhtiar dan selalu berusaha mengembangkan sekaligus mengeksplor potensi para santri agar dapat menjadi santri multidimensi, cakap, terampil dan bermanfaat.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bata-bata”]
Sebab selain mengembangkan pendidikan format mulai dari tingkat pra sekolah, dasar, menengah hingga tingkat tinggi. Pesantren Bata-Bata juga mengembangkan beragam lembaga akselerasi, seperti baca kitab kuning, pendidikan, ibadah, astronomi, logika, tata bahasa, fiqih, jurnalistik, hukum, kewirausahaan, penguasaan 11 bahasa internasional, serta berbagai bidang ilmu sosial lainnya.
Hal tersebut sesuai dengan lima falsafah Pesantren Bata-Bata, yang menitikberatkan pada 5 (lima) poin penting, meliputi Tarbiyah (Education), Ubudiyah (Relegiusity), Khuluqiyah (Morality), Ijtimaiyah (Society) dan Riyadiyah (Entrepreneurship).
Ajang insidentil tersebut tidak hanya dikemas dengan konsep menarik dengan tampilan teknologi berkelas, tetapi juga dalam rangka mempertahankan komitmen terhadap pendidikan, kemajuan dan peradaban. Salah satunya melalui program Ta’yidul Maharah (TAMARA) dengan melibatkan sebanyak 32 lembaga akselerasi pada malam penutupan.
Sementara untuk pembukaan Pekan Ngaji 7, Ngaji Optimisme dengan menghadirkan Syarifah Sania Umar Muhtar (Gunung Pati, Semarang, Jawa Tengah), diplot sebagai pemateri yang dipusatkan di kompleks asrama putri. Sedangkan Arrazy Hasyim (Ciputat, Tangerang) diplot sebagai pemateri Ngaji Optimisme di asrama pesantren putra. [pin/but]






