Surabaya (beritajatim.com) – Surabaya dikenal sebagai kota metropolitan dengan denyut modern yang tak pernah berhenti. Namun, di balik deretan gedung tinggi dan jalan-jalan megah, tersimpan kenangan tentang tempat-tempat wisata yang dulu menjadi kebanggaan warga.
Tempat-tempat itu pernah penuh tawa, cahaya, dan keramaian — kini hanya tinggal cerita nostalgia yang hidup di ingatan.
Taman Remaja Surabaya
Taman Remaja Surabaya atau TRS adalah simbol masa kecil bagi banyak warga Surabaya. Berdiri sejak 1970-an, tempat ini menjadi pusat hiburan keluarga dengan berbagai wahana, pertunjukan musik, hingga acara seni lokal.
Banyak yang masih mengenang masa-masa menonton konser band di panggung terbuka TRS atau menikmati suasana malam penuh warna. Namun, kemajuan zaman dan munculnya tempat hiburan modern membuat pengunjung berkurang drastis. Akhirnya, TRS resmi ditutup, dan kini lahannya telah beralih fungsi sebagai bagian dari pembangunan kota baru.
Surabaya Carnival Night Market
Surabaya Carnival Night Market sempat menjadi magnet wisata malam sejak dibuka tahun 2014. Lampu warna-warni, wahana permainan, dan spot foto yang Instagramable menjadikannya destinasi favorit keluarga dan anak muda.
Sayangnya, pandemi COVID-19 membawa perubahan besar. Aktivitas yang terhenti lama membuat tempat ini kehilangan daya tarik dan pengunjung. Setelah beberapa kali mencoba bangkit, Surabaya Carnival akhirnya resmi tutup, meninggalkan jejak nostalgia bagi warga kota.
Ciputra Waterpark
Dikenal sebagai salah satu taman air terbesar di Asia Tenggara, Ciputra Waterpark dulu selalu ramai dikunjungi, terutama saat akhir pekan. Dengan tema petualangan Sinbad, tempat ini menyuguhkan berbagai wahana air seru yang membuat anak-anak dan keluarga betah berlama-lama.
Namun, pandemi membuat operasional taman air megah ini terhenti total. Setelah lama tak beroperasi, pengelola akhirnya memutuskan menutup permanen lokasi wisata yang pernah menjadi ikon Surabaya Barat tersebut.
Museum Kesehatan dr. Adhyatama
Museum ini dulunya menjadi kebanggaan tersendiri karena merupakan museum kesehatan pertama dan satu-satunya di Indonesia. Koleksinya tak biasa — mulai dari alat medis klasik, model organ tubuh, hingga benda-benda mistis yang berkaitan dengan dunia pengobatan tradisional.
Sayangnya, minat masyarakat terhadap wisata edukatif tergolong rendah. Ditambah proses renovasi berkepanjangan dan minimnya promosi, museum ini akhirnya ditutup dan perlahan terlupakan.
Meski kini tak lagi berdiri, tempat-tempat itu meninggalkan kenangan mendalam bagi warga Surabaya. Dari gelak tawa di TRS, cahaya malam di Carnival, cipratan air di Ciputra Waterpark, hingga rasa ingin tahu di Museum Kesehatan — semuanya adalah potongan kisah kota yang penuh warna.
Surabaya boleh terus berkembang dan berubah, namun nostalgia itu tetap hidup dalam ingatan setiap warganya. Karena sejatinya, kenangan adalah bagian dari sejarah yang tak pernah benar-benar hilang. [naz/ian]






