Sidoarjo (beritajatim.com) – Hari Raya Iduladha cocok dijadikan momentum untuk berkontemplasi atau proses perenungan maupun pengamatan mendalam terhadap diri sendiri untuk mengubah takdir.
Anjuran itu disampaikan oleh Prof. Dr. KH Muhammad Zakki, pengasuh Pondok Pesantren Mukmin Mandiri Waru, dalam tausiyahnya di acara Ngaji Qurban: Ikhtiar Mengubah Takdir, di Ponpes Mukmin Mandiri, Rabu (27/5/2026).
“Kita bisa meneladani Nabi Ibrahim, Ismail, dan Siti Hajar yang begitu luar biasa tawakalnya. Kemudian, ikhtiar maksimal, dan apa yang dikerjakan itu sesungguhnya bisa mengubah takdir. Yang semula belum beruntung menjadi beruntung,” ujarnya.
Disebutkan Kyai Zakki bahwa hidup ini adalah sebuah perjuangan. Jangan pernah berhenti berjuang. Karena Allah SWT menghidupkan di alam ini punya rencana yang terbaik. Hanya saja manusia bisakah menggali rencana Allah dengan baik? Caranya seperti apa?
“Ya, banyak istighosah, banyak berzikir, banyak berkontemplasi, dan juga banyak bekerja. Karena itu bagian daripada ibadah untuk membongkar rahasia di balik kita bisa mengubah takdir,” imbuhnya.
Ia menambahkan, Ngaji Qurban seperti ini rutin dilakukan setiap setahun sekali. Keinginannya ke depannya dikemas lebih besar lagi dengan menghadirkan tokoh nasional yang bisa memotivasi jemaah secara mendalam dan menyeluruh.
“Ke depannya saya akan upayakan acara lebih besar untuk bisa menghidupkan semangat Ibrahim, semangat Siti Hajar, dan semangat Ismail untuk bisa mengubah takdir kita menjadi lebih baik,” janjinya.
Ketua Gabungan Perusahaan Perkebunan Jatim tahun 2022-2026 itu juga berpesan kepada para jemaah bahwa hidup ini jangan hanya sekadar hidup. Tapi, buatlah hidup punya nilai. Setidaknya bisa membuat sejarah yang terbaik pada diri sendiri. Kalau tidak bisa, buatlah sejarah yang terbaik pada masyarakat.
Dengan cara apa? Sambung Kyai Zakki, yakni menjadi orang baik. “Kalau jadi orang baik, berarti kita bisa membuat sejarah baik pada diri sendiri dan insyaallah akan dikenang oleh anak cucu kita,” urainya.
Di Hari Raya Iduladha ini, pondoknya menyembelih lima ekor sapi dan lima ekor kambing. Daging hewan kurban dibagikan kepada para duafa, yatim piatu, serta para tetangga sekitar yang belum beruntung secara ekonomi. Usai pengajian, para jemaah juga bisa melakukan icip-icip bumbu masak Bamboe Indonesia yang sudah disediakan di ruang sebelah majelis pertemuan.
Dalam kesempatan yang sama, para jemaah juga mendapatkan paket daging kurban dan kemasan sachet aneka rasa bumbu masakan dari Bamboe Indonesia. (isa/kun)






