Surabaya (beritajatim.com) – National Hospital Surabaya melaporkan lonjakan pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan dalam beberapa pekan terakhir. Fenomena ini berkaitan dengan meningkatnya sirkulasi Respiratory Syncytial Virus (RSV), COVID-19, dan influenza yang terjadi bersamaan, dikenal sebagai Tripledemic.
“Dalam beberapa waktu belakangan, kami melihat adanya peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan di RS National Hospital,” ujar dr. Bambang Susilo Simon, SpP, FCCP, FAPSR, FISR, Spesialis Paru dari National Hospital Surabaya, Sabtu (15/2/2025).
“Beberapa gejala yang kami amati antara lain pilek, batuk, demam, sakit tenggorokan, bersin, sakit kepala, mengi, dan kesulitan bernapas,” tambahnya.
Namun, kendala terbesar dalam penanganan RSV adalah kesulitan dalam menegakkan diagnosis. Gejalanya yang mirip dengan flu biasa menyebabkan banyak pasien tidak menyadari bahwa mereka terinfeksi RSV, sehingga keterlambatan dalam pengobatan sering terjadi.
“Kami tidak bisa menentukan secara pasti apakah RSV menjadi salah satu penyebab kejadian tersebut dikarenakan limitasi terkait diagnosis,” tambah dr. Bambang.
Indonesia tengah menghadapi lonjakan populasi lansia, yang diprediksi mencapai 14,6% dari total penduduk pada tahun 2030. Saat ini, sekitar 20,7% lansia memiliki penyakit kronis yang semakin memperburuk kerentanan mereka terhadap RSV. Sistem imun yang melemah akibat penuaan juga memperbesar risiko infeksi dan komplikasi serius.
“Dengan populasi lansia Indonesia yang terus meningkat, potensi beban kesehatan dan ekonomi akibat RSV pada orang dewasa perlu menjadi perhatian serius,” jelas dr. Bambang.
RSV dapat menyebar dengan mudah melalui droplet atau kontak langsung dengan sekresi pernapasan orang yang terinfeksi. Penularan lebih intensif terjadi selama musim hujan dari September hingga Februari, dengan puncaknya pada bulan Oktober hingga Desember.
Lansia yang terinfeksi dapat menularkan virus ini lebih lama dibandingkan kelompok usia lainnya, meningkatkan risiko penyebaran di fasilitas kesehatan dan komunitas.
“Seiring dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan angka harapan hidup rata-rata masyarakat Indonesia, pencegahan RSV melalui vaksinasi dan edukasi menjadi langkah penting untuk mengurangi dampaknya, terutama pada kelompok berisiko tinggi,” katanya.
Prediksi global menunjukkan bahwa jumlah infeksi RSV dalam tiga tahun ke depan dapat mencapai 15,2 juta kasus di Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri, jumlah infeksi RSV dalam periode yang sama diperkirakan mencapai 6,1 juta kasus.
Saat ini, belum tersedia pengobatan khusus untuk RSV pada orang dewasa. Oleh karena itu, langkah pencegahan menjadi satu-satunya cara efektif untuk mengurangi dampak infeksi.
“Masyarakat sebaiknya meningkatkan kebersihan tangan, menggunakan masker, menghindari kerumunan, dan menjaga daya tahan tubuh. Vaksinasi bagi kelompok berisiko tinggi juga menjadi langkah strategis dalam upaya pencegahan,” katanya.[asg/kun]






