Bojonegoro (beritajatim.com) – Berdiri sejak 1989 Museum 13 sudah mengumpulkan banyak koleksi temuan benda-benda bersejarah. Museum swasta yang didirkan Harry Nugroho itu terlahir dari kesadaran untuk menyelamatkan peninggalan benda bersejarah di Kabupaten Bojonegoro.
Museum 13 berada sekitar 20 menit atau 15,1 km dari pusat kota. Tepatnya di SDN II Panjunan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Hary menyulap ruang kelas menjadi layaknya museum atau serupa laboratorium bersejarah. Khusus mengulik paleontologi-ilmu tentang fosil hewan dan tumbuhan.
Guru kelas III ini menata semua koleksi fosil mereka di sebuah etalase. Ada dua etalase kaca berukuran besar dan dua rak sederhana. Semua untuk memajang hasil temuan Hary beserta 13 orang yang tergabung. Jumlah anggota kebetulan sama seperti nama museum.
[berita-terkait number=”4″ tag=”sejarah”]
Penamaan Museum 13, kata Hary memiliki filosofi khusus. Satu (1) merupakan Tuhan Yang Maha Esa. Sementara tiga (3) mengambil proses kehidupan. Di antaranya lahir, hidup, dan mati. Bak ahli Paleontologi, secara komunal ‘nggladak’ di berbagai wilayah di Kabupaten Bojonegoro.
“Nggladak istilah teman-teman saat proses mencari dan penyelamatan fosil purba. Ketertarikan di dunia Paleontologi ini bermula saat dulu mencari bebatuan akik. Saat itulah temuan fosil pertama yaitu fosil gigi dan kaki gajah,” ujarnya, Rabu (15/6/2022).
Hary Nugroho yang memang sangat konsen pada dunia kepurbakalaan ini menjelaskan, adanya fosil di Bojonegoro menunjukkan sejarah panjang kabupaten ini. Temuan demi temuan mereka dapatkan. Terbaru, ada penemuan 79 spesies molusca di Kabupaten Bojonegoro.
Berbekal melihat peta geologi, beberapa titik penjelajahan di antaranya Desa Drenges, Kecamatan Sugihwaras dan Kali Gandong di Kecamatan Sugihwaras yang juga merupakan anak kali tertua. Ada juga di Desa Pragelan, Kecamatan Gondang dan Desa Wotanngare, Kecamatan Kalitidu.
Sedangkan gading bagian femur juga pernah ditemukan di Desa Bareng, kecamatan Ngasem pada 2016 silam. Dengan prakira umur antara 300 ribu hingga 10 ribu tahun. Masih banyak lagi temuan-temuan lain di wilayah Bojonegoro yang sudah tak terhitung lagi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”bojonegoro”]
“Kendalanya ada pada ‘kolekdol’. Istilah untuk orang yang mengoleksi tapi di-dol (Jawa: dijual). Jadi kalah cepat untuk menyelamatkan penemuan-penemuan bersejarah. Sebab berbicara tentang cagar budaya masih kalah dengan urusan perut karena dijual bebas,” selorohnya.
Pengelolaan museum secara mandiri ini pun mendapat perbantuan konservasi dari Sragen dan Museum Geologi Bandung. Sehingga ilmu baru bagaimana pemetaan lapangan dan observasi bersumber langsung dari ahlinya.
“Kami juga memiliki agenda dengan siswa-siswi untuk terjun langsung praktik. Seperti saat bersama Balai Arkeologi Yogjakarta. Siswa terlibat langsung dalam proses ekskavasi Situs Wotanngare. Atau belajar mengidentifikasi artefak. Kegiatan bersama siswa ini dapat menumbuhkan rasa untuk peduli terhadap peninggalan bersejarah,” tukasnya. [lus/but]







