Batu (beritajatim.com) – Kasus kematian tragis yang menimpa Kavana Hafil Kusuma, mahasiswa Program Doktor (S3) Biologi Universitas Brawijaya (UB), hingga kini masih menyisakan tanda tanya besar. Meski jenazahnya telah ditemukan dua bulan lalu di sebuah sungai di Kota Batu, pihak keluarga dan akademisi masih menunggu kejelasan dari proses penyidikan kepolisian yang dinilai berjalan lambat.
Peristiwa memilukan ini bermula pada 14 November 2025. Hafil terakhir kali terlihat di Laboratorium Biologi UB pada siang hari sebelum sempat bersantai bersama rekan-rekannya di sebuah kafe. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Hafil berniat pulang menuju Batu setelah pertemuan tersebut, namun ia justru dilaporkan hilang.
Tiga hari berselang, tepatnya 17 November 2025, ayah korban yang mulai cemas menghubungi dosen pembimbing Hafil untuk melaporkan bahwa putranya tak kunjung sampai di rumah. Pencarian berakhir duka saat warga yang hendak memancing menemukan jenazah Hafil di sungai kawasan Jalan Patimura, Kelurahan Temas, Kota Batu, pada 20 November 2025.
Kematian Hafil menyimpan sederet kejanggalan. Di lokasi penemuan jenazah, sepeda motor dan ponsel milik korban hilang tanpa jejak. Meski ada barang yang raib, Prof. Mochammad Sasmito Djati, dosen pembimbing korban, meragukan jika motif di balik peristiwa ini adalah perampokan murni.
“Saya yakin dia tidak dirampok, karena saya tahu pada saat itu (Hafil) tidak memiliki uang,” tegas Prof. Sasmito saat ditemui di Gedung Rektorat UB.
Kondisi jenazah saat ditemukan juga mengisyaratkan bahwa korban sudah meninggal dunia beberapa hari sebelum dievakuasi. Hal ini diperkuat oleh kesaksian Bustomi (nama samaran), warga setempat yang melihat kondisi fisik jenazah saat pertama kali ditemukan.
Kehilangan Hafil menjadi pukulan berat bagi dunia akademik Universitas Brawijaya. Di mata Prof. Sasmito, Hafil adalah mahasiswa yang sangat cerdas dan rajin. Bahkan, ia memiliki kemampuan spesifik yang jarang dimiliki orang lain.
“Anaknya pintar. Salah satu keahliannya adalah dia bisa menumbuhkan partikel virus Covid-19,” kenang Guru Besar Biologi Reproduksi Molekuler tersebut.
Prof. Sasmito mengungkapkan kekhawatirannya atas progres penyidikan yang sempat terkesan mandeg. Merasa tidak mendapat jawaban yang memadai dari pihak kepolisian, ia akhirnya mengambil langkah tegas dengan melaporkan kasus ini kepada Mahfud MD, yang merupakan anggota Majelis Wali Amanat (MWA) UB.
“Penyidikan ada, tapi sempat berhenti. Saya ingin melindungi mahasiswa Indonesia, khususnya di UB. Kasus ini harus dituntaskan demi keadilan,” ujarnya.
Titik terang mulai terlihat pada Sabtu (24/1/2026), ketika warga kembali melihat aktivitas petugas kepolisian di lokasi penemuan jenazah di Temas untuk melanjutkan olah TKP dan penyidikan.
Terkait perkembangan kasus ini, beritajatim.com mencoba mengonfirmasi Kapolsek Batu, AKP M. Subhan. Namun, ia mengarahkan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada pihak Polres.
“Berkenan hubungi penyidik Polres karena yang menangani mereka. Saya sendiri tidak mengikuti siapa yang menangani karena banyak pekerjaan di Polsek,” ujar AKP Subhan, Selasa (27/1/2026).
Namun, hingga berita ini diturunkan, Kasat Reskrim Polres Batu, Iptu Joko Suprianto, belum memberikan tanggapan meski telah dihubungi melalui pesan singkat.
Sementara itu, Humas UB melalui Tri Wahyu Basuki menegaskan bahwa pihak universitas menyerahkan sepenuhnya kasus ini kepada pihak berwajib. “Setahu saya ini sudah masuk ranah kepolisian. Mungkin bisa langsung konfirmasi ke pihak kepolisian,” pungkasnya. [dan/aje]






