Surabaya (beritajatim.com) – Jembatan di kota Baltimore, Amerika Serikat (AS) runtuh setelah ditabrak kapal kargo berbendera Singapura. Kapal tersebut sedang dalam perjalanan menuju Sri Lanka. Upaya Pencarian yang gigih untuk mencari enam orang yang hilang setelah kapal kargo besar menabrak Key Bridge di Baltimore telah dihentikan sementara, memberi jalan bagi upaya pemulihan yang akan dilanjutkan pada Rabu pagi.
Penjaga pantai mengonfirmasi bahwa pencarian dihentikan pada Senin malam (25/3/2024) dan akan dilanjutkan Selasa pagi. Enam orang yang diyakini belum ditemukan adalah anggota kru konstruksi yang sedang bekerja menambal jalan berlubang di Jembatan Key Bridge saat insiden terjadi. Meskipun telah diusahakan pencarian, namun harapan untuk menemukan korban yang hilang sangat minim.
“Pada saat ini kita tidak percaya bahwa akan menemukan salah satu dari mereka masih hidup,” kata Laksamana Muda Shannon Gilreath, menyatakan keputusan untuk menghentikan sementara upaya pencarian.
Menurut keterangan dari pihak berwenang, enam orang yang masih hilang adalah anggota kru konstruksi yang sedang bekerja di jembatan saat insiden terjadi. Para korban berasal dari berbagai negara seperti El Salvador, Guatemala, Honduras, dan meksiko yang berusia sekitar 30-an sampai 40-an. Mereka dikenal sebagai pekerja keras dan rendah hati oleh rekan-rekannya.
Para pejabat mengatakan sebanyak 20 orang dan beberapa kendaraan terjatuh ke sungai dan menyatakan kejadian tersebut sebagai peristiwa yang menimbulkan korban massal.
Jeffrey Pritzker, wakil presiden eksekutif Brawner Builders, mengungkapkan kekhawatiran akan nasib para pekerja yang hilang. “Kami menduga mereka tidak hidup, karena mereka terlempar ke teluk di area sedalam 50 meter, dengan suhu sekitar 47 Fahrenheit (8 Celcius), mungkin terkubur di bawah berton-ton baja,” ujar Pritzker.
Para pekerja dan kendaraan berada di Jembatan Francis Scott Key berada di atas sungai Patapsco ketika kapal menabrak pilar penyangga pada pukul 1.30 dini hari. Awak kapal melakukan panggilan darurat beberapa saat sebelum tabrakan terjadi, yang membantu penyelamatan banyak nyawa dengan memberikan waktu pihak berwenang untuk mencegah mobil-mobil terus melaju di atas jembatan.
Hingga saat ini, baru dua orang yang berhasil diselamatkan. Salah satunya sedang dalam kondisi serius, sementara yang lainnya tidak mengalami luka serius.
Kepala pemadam kebakaran Departemen Pemadam Kebakaran Kota Baltimore, James Wallace, menjelaskan bahwa tim penyelamat harus menghadapi tantangan cuaca yang dingin, kegelapan, dan puing-puing yang tersebar di sekitar area jembatan.
Gubernur Maryland Wes Moore juga telah mengumumkan keadaan darurat dan bersiap untuk mengerahkan sumber daya federal.
Pemerintah federal juga memberikan dukungan penuh dalam upaya penyelamatan dan pemulihan. Presiden Joe Biden menegaskan bahwa kejadian ini merupakan kecelakaan mengerikan, bukan tindakan terorisme. Dia berjanji akan menggunakan dana federal untuk membangun kembali jembatan tersebut.
Saat ini upaya pencarian sedang berlangsung dengan tim penyelamat aktif mencari korban yang dikhawatirkan berada di dalam air. Meskipun cuaca membeku, para penyelam terus bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan siapa pun yang masih bisa diselamatkan.
“Rasanya setidaknya sekitar 30 Fahrenheit (-1 Celcius) di tempat saya berada. Dan saya yakin suhu airnya bahkan lebih dingin lagi. Itu bisa menimbulkan kekhawatiran dan risiko bagi para penyelam kami,” kata Kevin Cartwright, direktur komunikasi pemadam kebakaran.
Kapal container yang terlibat dalam kecelakaan tersebut baru saja berlayar dalam perjalanan 27 hari ke Sri Lanka. Namun, hanya 30 menit setelah keberangkatan, insiden tragis itu terjadi.
Rekaman yang mengerikan menunjukan bagaimana jembatan itu ambruk ke dalam perairan yang membeku. Hingga saat ini, penyebab pasti dari kecelakaan ini masih belum jelas, dan penyelidikan sedang berlangsung. [aje]






