Probolinggo (beritajatim.com) – Penutupan sementara restoran Mie Gacoan di Jalan Suroyo, Kelurahan Tisnonegaran, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo, memberi dampak serius pada para driver ojek online. Mereka yang biasanya bergantung pada arus orderan makanan, kini merasakan penurunan pendapatan yang signifikan.
Restoran populer tersebut sebelumnya menjadi salah satu penyumbang order terbesar bagi para ojol. Kini, ratusan driver harus mencari cara lain untuk bisa tetap bertahan hidup.
Banyak di antara mereka yang mengaku kehilangan sumber utama penghasilan. Kondisi ini membuat para ojol terpaksa mengubah pola kerja mereka demi memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Junaedi (53), salah seorang driver ojol, mengatakan dalam sehari biasanya ia bisa mendapatkan belasan orderan dari resto tersebut. “Setiap hari ada ratusan orderan dari Gacoan. Setelah ditutup, kami benar-benar kehilangan,” ujarnya.
Ia menambahkan, banyak rekan seprofesi kini pulang dengan tangan kosong karena tidak lagi mendapat pesanan makanan. “Banyak teman tidak bisa bawa pulang uang untuk keluarga,” ucapnya dengan nada berat.
Sebagian driver yang biasa fokus di layanan makanan kini beralih mengambil penumpang. Namun, peralihan ini justru menciptakan persaingan yang semakin ketat di lapangan.
“Penumpang yang sedikit direbut banyak driver sekaligus. Akhirnya sama-sama sepi. Kami saling berebut untuk sekadar bertahan,” jelas Junaedi.
Kondisi semakin sulit ketika sebagian ojol memilih bekerja hingga larut malam. Pola kerja yang berubah drastis ini membuat banyak driver kelelahan secara fisik maupun mental.
Komunitas ojol di Probolinggo berharap pemerintah turut memikirkan solusi untuk masalah ini. Salah satu usulan yang muncul adalah mendorong ASN agar menggunakan jasa ojol secara rutin.
“Kalau ASN seminggu sekali saja pakai ojol, atau tiga kali seminggu, itu sudah sangat membantu. Bagi kami, orderan itu bukan sekadar pekerjaan, tapi soal dapur yang tetap ngebul,” pungkas Junaedi. (ada/ian)






