Bondowoso (beritajatim.com) – Kasus leptospirosis di Kabupaten Bondowoso terus meningkat. Hingga Agustus 2025, tercatat 16 warga terjangkit penyakit akibat bakteri Leptospira, tiga di antaranya meninggal dunia.
Sekretaris Daerah (Sekda) Bondowoso, Fathur Rozi, menyampaikan pihaknya telah memerintahkan Dinas Kesehatan (Dinkes) untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Pasalnya, penetapan status kejadian luar biasa (KLB) belum bisa dilakukan oleh kabupaten.
“Tren ini naik tiap tahun. Tahun 2023 ada satu kasus dengan satu kematian, tahun 2024 sebelas kasus tanpa korban meninggal, dan tahun ini sampai Agustus sudah 16 kasus dengan tiga kematian. Tapi status KLB belum bisa diputuskan, masih menunggu provinsi,” ujarnya, Jumat (29/8/2025).
Rozi menegaskan, kewaspadaan tetap harus dijalankan. “Jangan sampai semakin merebak dan meluas. Pencegahan bukan tanggung jawab Dinkes saja, tapi seluruh pemerintah kabupaten bersama masyarakat,” katanya.
Plt Kabid Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit (P2P) Dinkes Bondowoso, dr. Titik Erna Erawati, menjelaskan leptospirosis ditularkan lewat kencing tikus yang mengandung bakteri Leptospira.
Bakteri ini dapat masuk ke tubuh manusia melalui kulit yang terluka, terutama saat bersentuhan dengan genangan air.
“Gejalanya mirip DBD atau typoid, awalnya demam. Bedanya, pada leptospirosis ada bintik merah pada mata, bisa memerah hingga menguning, serta nyeri hebat di betis,” jelasnya.
Titik menambahkan, pasien yang meninggal umumnya terlambat ditangani. Dari 16 kasus tahun ini, tiga orang meninggal akibat gagal ginjal. Salah satunya baru datang ke fasilitas kesehatan setelah seminggu sakit dengan kondisi sudah parah.
Saat ini, Dinkes bersama Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya melakukan trapping tikus di sekitar sawah dan rumah pasien untuk diperiksa.
Jika ginjal tikus terbukti positif mengandung Leptospira, maka kencingnya berpotensi menularkan penyakit.
Untuk mencegah penularan, masyarakat diminta menjaga kebersihan lingkungan, menutup luka sebelum ke sawah, menggunakan sepatu boot, serta merebus air sebelum diminum.
“Hasil pemeriksaan kami, ada sumber air di beberapa desa yang positif tercemar. Karena itu, masyarakat harus hati-hati. Jangan biarkan sampah menumpuk di dalam rumah. Kumpulkan sore atau malam hari, lalu buang pagi agar tidak mengundang tikus,” imbaunya.
Ia juga mengingatkan pentingnya pola hidup sehat. “Biasakan cuci tangan dan kaki setelah kontak air, konsumsi makanan bergizi, dan istirahat cukup,” pungkasnya. [awi/beq]






