Jember (beritajatim.com) – Wakil Bupati Djoko Susanto memilih kembali tidak menghadiri sidang paripurna di DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (15/3/2025) malam, karena merasa tidak dilibatkan dalam proses revisi Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2016 tentang Susunan Perangkat Daerah.
“Kebetulan saya ada acara diskusi, dan yang tahu materinya adalah Bupati, sehingga yang lebih pas datang adalah Bupati. Di samping itu, sampai hari ini, sampai detik ini, juga tidak ada pendelegasian kepada saya untuk menghadiri,” kata Djoko.
Ini kali kedua Djoko tidak menghadiri sidang paripurna pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (raperda) Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Nomor 3 tahun 2016 tentang Susunan Perangkat Daerah di DPRD Jember. Sebelumnya ia absen dalam sidang paripurna yang digelar pada Jumat (14/3/2025) malam.
Sebelumnya, Djoko menegaskan, belum pernah dilibatkan untuk membahas perubahan Susunan Organisasi dan Tata Kerja dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025-2029.
Bahkan, Djoko mengaku belum menerima naskah nota pengantar Raperda Perubahan Kedua atas Peraturan Daerah Kabupaten Jember Nomor 3 Tahun 2016 tentang Pembentukan dan Susunan Perangkat Daerah yang dibacakan Fawait, hingga paripurna perdana digelar, Kamis (14/3/2025) malam.
Sementara itu, Bupati Muhammad Fawait membantah adanya upaya untuk mematikan peran Djoko sebagai pendampingnya di pemerintahan, dalam akun media sosial Threads yang diakses Beritajatim.com, Kamis (13/3/2025).
“Saya tegaskan, tidak ada upaya mematikan peran Wakil Bupati. Pemerintahan berjalan sesuai aturan, dan setiap tugas harus dijalankan sesuai porsinya. Pihak kami selalu melibatkan siapapun untuk berkontribusi dalam membangun Kota Jember,” kata Fawait. [wir]







35 Komentar
🤣🤣🤣
Mundur saja Pak Djos lama² jadi sakit hati
Tanda-tanda
Mau sampai kapan. atokar
GARA DUIT PASTINYA…
Blm 100 hari udh gini 😁
Jare kudu Adap seg Baru ilmu.ning opo o okeh okehe kwalik,pak wabub,beliau lebih sepuh dari seharusnya naddian koyo ngopo kudu andap asor
Mulai wes🤣🤣
Berfikirlah dewasa sebagai pemimpin rakyat, bagaimana bisa berjalan dgn baik dan sukses programnya kalau pimpinannys saja tidak akor. Kayak anak kecil aja. Sangat memalukan. ” Satu sama lain harus sadar siapa SIAPA PEMIMPIN SIAPA YANG WAKIL”
Semoga wabup segera sadar porsi dan tidak terprovokasi sengkuni2 di sekeliling beliau…
Betul
Terlepas dengan masalah antara mereka, seharusnya tetap tunjukkan sebagai pasangan pejabat yang harmonis. Jangan diperlihatkan dipublik agar tidak menimbulkan preseden buruk di masyarakat.
Jember butuh pemimpin yang solid, bukan yang terpecah belah. Ingatlah bahwa jabatan ini amanah, bukan ajang pertarungan ego. Bersikaplah dewasa, cari titik temu, dan fokuslah pada kepentingan rakyat. Jika tidak bisa bekerja sama, maka yang dirugikan bukan hanya pemerintahan, tetapi seluruh warga Jember
Tunggu dan lihat, paling tidak 1 tahun kedepan. Keduanya kan belum punya pengalaman di eksekutif. Memang sebaiknya punya tugas masing-masing. Wakil tidak harus meng-ekor terus kemanapun bupati pergi.
semua karena cinta….🤪🤪🤪🤪
BARU MAU MELANGKAHKAN KAKI SUDAH SALING SIKUT SIKUTAN ( JADILAH LEADER YANG DEWASA
Keselarasan keseimbangan dalam suatu pencapaian akan lebih baik dan tertata jika satu sama lain saling bersinergi dan bersatu.
Wes Jarno pak ikuti SOP ne wes, seng penting Jember Iki rakyate makmur
Wes Jarno pak joko meloki sop wae,seng penting rakyat Jember Iki makmur LAN seneng
Durung durung,WIS merasa baru usia jagung ada apa ya?
Durung durung,WIS merasa baru usia jagung ada apa ya?
Keselarasan keseimbangan dalam suatu pencapaian akan lebih baik dan tertata jika satu sama lain saling bersinergi dan bersatu.
Pemimpin yang baik bukan hanya tentang siapa yang benar, tetapi bagaimana mencari solusi terbaik untuk rakyat. Bupati dan wakil bupati dipilih untuk bekerja bersama, bukan bersaing. Perbedaan pendapat itu wajar, tetapi jangan sampai mengorbankan pelayanan dan kesejahteraan masyarakat.
Daripada Jember menjadi korban akibat ketidakharmonisan kepemimpinan, lebih baik memberi ruang bagi mereka yang mampu bekerja dengan visi yang sama. Jika sudah tidak bisa bersinergi, maka Wakil Bupati mundur dengan terhormat adalah pilihan yang lebih bijak daripada terus memaksakan keadaan yang justru merugikan masyarakat. Jangan biarkan rakyat menanggung beban akibat kepemimpinan yang tidak berjalan efektif. Tak iyye tretan ?
Memalukan depan rakyat terang terangan gak bisa akur..sepertinya cuma di jember ini…padahal baru dilantik…contoh itu ..gubernur dan wakil gubernur jatim….
Waduh…
Lagek pirang dino wes ra kompak
Pemimpine loro Kabeh karena saling sikut Karo wakile Sampek rupane mendol bengeb sing penting rakyat aman LAN sejahtera
Baru seumur jagung sudah gini,anda berdua dipilh oleh rakyat yg kompak dong, buang jauh2 egonya masing2. Pak bupati dan wakil harus kompak kan ada tugasnya masing2.
Belum bekerja sudah TDK akur kapan majunya jember
Palank onggu
Kritik keras ituuu di IG nya pemkab jember, di ig Pemkab jember yg komen memuji terus padahal tidak ada yg di banggakan unk saat ini, ayo ramaikan ayo kritik untuk kebaikan
Bupati saat ini kerjanya basic banget, jangan buat mereka nyaman dengan jabatanya
Mmg begitu
Parah
Parah
Parah
Parah sekali .
Lucuuuuu…