Surabaya (beritajatim.com) – Politisi senior Partai Gerindra, Ir Bambang Haryo Soekartono atau BHS mendesak pemerintah untuk menyelamatkan sumber air brantas yang saat ini mengalami penyusutan sebesar 70 persen. Desakan ini mengemuka setelah adanya keluhan kesulitan air pada lahan pertanian wilayah Sidoarjo.
“Sudah saya lakukan pengecekan. Saya lihat sendiri ke Bendungan Pintu Air Rolak Songo, ternyata jumlah debit air memang terjadi penyusutan sangat besar, hanya bisa cukup untuk pengairan. Bila pengelolaan pintu air di hilir sungai ini diperhatikan, diharapkan air tidak terbuang percuma ke laut,” kata BHS, Kamis (5/10/2023).
Anggota DPR-RI periode 2014-2019 ini menjelaskan, atas adanya keluhan kesulitan air ini mendorong dirinya untuk melakukan kunjungan ke sumber air Brantas di wilayah Batu Malang, tepatnya di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.
“Keprihatinan teramat sangat dengan adanya informasi terjadi penurunan titik Sumber Air Brantas yang sangat drastis dari tahun 2005 ke tahun 2016. Dimana Sumber Air Brantas di tahun 2005 masih ada 200 titik, tahun 2011 menurun menjadi 150 titik, di tahun 2015 menjadi 102 titik. Dan, saat ini sungguh sangat memprihatinkan di tahun 2016, menurun hingga tinggal 57 titik sumber air,” papar BHS.
Dewan Pakar DPP Partai Gerindra ini menambahkan, apabila tidak ada penanganan dan terjadi penyusutan kembali dikhawatirkan pertanian, perikanan dan sumber air bersih di sebagian besar wilayah Jawa Timur akan gagal dan hancur total. Sehingga, mempengaruhi ekonomi dan bahkan kehidupan masyarakat di Jawa Timur.
“Pemerintah pusat dan provinsi seharusnya menindaklanjuti untuk melakukan pencegahan akan terjadinya pengurangan titik Sumber Air Brantas. Yakni, dengan mensterilkan wilayah titik sumber air tersebut jangan sampai tergusur oleh pertanian dan pemukiman dengan regulasi regulasi yang ketat. Ini agar sumber air tidak mengalami penyusutan karena air merupakan sumber kehidupan,” ungkapnya
“Dan, bahkan sekitar 30 persen dari total penduduk Jawa Timur memanfaatkan Sumber Air Brantas sebagai air bersih, irigasi pertanian dan perikanan budidaya. Seperti wilayah Malang Raya, Kediri Raya dan Surabaya Raya,” sambung BHS.
Lebih jauh Founder BHS Peduli ini menjelaskan, berbeda halnya dengan Malaysia, dimana Pemerintah sangat serius memperhatikan sumber air yang ada di negaranya.
“Malaysia mengeluarkan satu regulasi yaitu Movement Control Order (MCO) yang memantau semua pergerakan manusia, yang akhirnya warga Malaysia tidak mengganggu sumber air. Sehingga, akhirnya Malaysia bisa meminimalkan penyusutan produksi air dari tahun 2008 ke 2017 hanya sebesar 1 psrsen saja. Sedangkan Sumber Air Brantas di Indonesia sudah terjadi penurunan lebih dari 70 persen dari tahun 2005 hingga 2016,” tutur BHS membandingkan.
Atas permasalahan Sumber Air Brantas, BHS sangat mengharapkan Pemerintah lebih serius lagi dalam mempertahankan jumlah produksi sumber air di Indonesia, khususnya Sumber Air Brantas di Jawa Timur.
“Sudah seharusnya prioritas anggaran bukan hanya untuk membangun waduk, tetapi lebih bisa mengendalikan dan mempertahankan titik sumber air dari Sungai Brantas dan semua Sungai yang ada di Indonesia. Sekaligus, menormalisasi semua aliran sungai sebagai pengganti waduk agar wilayah yang dilewati sungai tidak terjadi banjir,” pungkas BHS yang disebut Bapak Petani Sidoarjo ini. [kun]
BACA JUGA: BHS: Kendalikan dan Tak Ada Istilah Kiamat Beras






