Ponorogo (beritajatim.com) – Menteri Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy meminta Pemerintah Daerah (Pemda) untuk intervensi harga komoditi jagung. Pasalnya, harga jagung di tingkat petani, harganya lebih murah, jika dibandingkan dengan harga di Badan Pangan Nasional (Bapanas). Harga jagung di tingkat petani di Ponorogo sebesar Rp4.400 per kilogram, jauh lebih murah dengan harga di Bapanas sebesar Rp5.690 per kilogram.
“Harus ada intervensi harga dari Pemda, supaya harganya bisa dikendalikan dengan harga wajar,” ungkap Muhadjir usai panen raya jagung di Desa Prayungan Kecamatan Sawoo Ponorogo, Sabtu (03/08/2024).
Dengan intervensi itu, tentu Pemda bisa mengendalikan harganya. Yakni diharga yang sesuai dan wajar. Artinya, jangan sampai petani dirugikan dari harga jagung yang telah ditetapkan. Dalam harga murah seperti ini, Muhadjir meminta pihak-pihak tidak bermain memanfaatkan untuk mencari keuntungan, yang bisa mengakibatkan kerugian dari petani.
“Tolong jangan ada pemain yang memanfaatkan peluang ini untuk mencari keuntungan, yang mengakibatkan kerugian dari petani,” katanya.
Untuk mengatasi persoalan seperti ini, kata Muhadjir mestinya Pemda bisa menyediakan anggaran untuk melakukan pembelian di tingkat petani. Petani sebetulnya juga tidak kepingin untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin. Mereka hanya minta harga wajar. Artinya, cukup untuk mengganti jerih payahnya dan sewa lahan miliknya.
“Mestinya Pemda bisa sediakan anggaran untuk melakukan pembelian,” katanya.
Muhadjir menambahkan bahwa untuk produksi, para petani di Indonesia ini, juga tidak kalah bersaing dengan petani di Vietnam atau Brazil. Bahkan, menurutnya mental kerjanya bisa lebih hebat. Sebab, petani Indonesia bisa bertahan mulai pukul 5 pagi di sawah hingga pukul 5 sore.
“Mereka ini hanya meminta kepastian, produksi yang dilakukan pasti dibeli dan harganya tidak bikin rugi,” pungkasnya. (end/ian)






