Lamongan (beritajatim.com) – Langit pagi di Lamongan terasa lebih ringan hari itu. Udara tidak terlalu lembap, tidak pula menyengat. Di sebuah sudut kota, langkah-langkah kecil mulai berderap, pelan, teratur, seolah menyatu dengan napas yang dijaga ritmenya.
Di antara mereka, Dahlina Rosyida—yang akrab dipanggil Nana—ikut membaur. Tidak ada garis start, tidak pula sorak-sorai penonton. Hanya sekelompok orang yang berbagi semangat yang sama: berlari, dan merawat tubuh mereka sendiri.
Bagi Nana, lari bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah kelanjutan dari hidup yang pernah ia jalani selama 17 tahun sebagai atlet balap sepeda. Ritme itu tidak pernah benar-benar hilang, hanya berubah bentuk.
“Tidak panjang (jarak jogging), karena aktivitas di hari-hari sebelumnya sangat lelah,” ujarnya suatu siang, seolah menegaskan bahwa tubuh pun punya bahasa yang harus didengar.
Kini, setelah pensiun sejak 2016, Nana menjalani peran yang berbeda. Ia adalah ibu dari dua anak, sekaligus aparatur sipil negara di Lamongan. Namun di sela semua itu, ia tetap setia pada rutinitasnya: berlari.
Dalam sepekan, jarak 50 hingga 60 kilometer bukan hal yang asing baginya. Di akhir pekan, ia menambahnya dengan long run hingga 21 kilometer—jarak yang bagi sebagian orang terasa seperti batas, tetapi baginya justru ruang untuk berdialog dengan diri sendiri.
Di rumah, ia melengkapinya dengan latihan beban sederhana. Tidak berlebihan, tetapi cukup untuk menjaga tubuh tetap seimbang.
Namun Nana tahu, tubuh tidak hanya dibentuk oleh gerak. Ia juga dibangun dari apa yang masuk ke dalamnya.
Pagi hari, ia memilih yang sederhana: sayur segar, telur rebus, dan buah. Makan berat cukup dua kali sehari, dengan batas waktu yang ia jaga disiplin.
“Jika tidak diimbangi makanan bernutrisi, ancamannya cedera bisa mengakhiri olahraga,” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kesadaran panjang yang terbentuk dari pengalaman bertahun-tahun.
Ia tidak pernah memaksa orang lain untuk menjadi atlet. Baginya, hidup sehat bukan soal profesi, melainkan pilihan.
“Itu tergantung kemauan dan kesadaran. Pola ini juga aku tularkan kepada anak-anak,” ujarnya.
Di titik ini, cerita Nana bertemu dengan persoalan yang lebih besar—tentang bagaimana masyarakat memaknai kesehatan itu sendiri.
Di ruang kerjanya, Kepala BRIDA Jawa Timur, dr. Andriyanto, melihat persoalan ini dari sudut yang berbeda. Ia tidak berbicara tentang jarak lari atau target kilometer, tetapi tentang dapur rumah tangga.
“Edukasi gizi itu perlu diberikan kepada ibu-ibu yang memiliki balita dan anak yang masuk tahap pertumbuhan,” katanya.
Baginya, ibu adalah titik awal dari banyak keputusan penting: apa yang dimakan, bagaimana dimasak, dan seberapa sering itu dikonsumsi.
Di tengah derasnya arus makanan instan dan olahan, pilihan itu menjadi semakin kompleks. Gorengan yang renyah, makanan cepat saji yang praktis, hingga minuman manis yang mudah dijangkau—semuanya hadir bukan hanya sebagai kebutuhan, tetapi juga kebiasaan.
Namun Andriyanto tidak serta-merta menyalahkan. Ia memilih pendekatan yang lebih lentur.
“Tinggal bagaimana porsi konsumsi dan intensitasnya. Jika terus menerus, pasti memicu masalah kesehatan,” ujarnya.
Di luar ruang kebijakan, suara lain datang dari perspektif budaya. Budayawan Antonio Carlos melihat gorengan bukan sekadar makanan, melainkan jejak sejarah yang panjang.
Ia lahir bersama perkembangan teknologi minyak goreng, tumbuh bersama kebiasaan masyarakat, dan kini menjadi bagian dari keseharian yang sulit dipisahkan.
“Coba perhatikan penjual makanan di tepi jalan, akan sangat mudah menjumpai gorengan. Sangat sulit menjumpai makanan sehat di tepi jalan,” ujarnya.
Perubahan, dalam pandangannya, tidak bisa terjadi seketika. Ia membutuhkan waktu—bahkan mungkin satu generasi penuh.
Sementara itu, di jalur yang berbeda, para pelari seperti Kristiono mencoba mencari titik seimbang.
Ia tidak sepenuhnya menolak minuman berkarbonasi. Sesekali, dalam kondisi tertentu, ia justru mengandalkannya.
“Masih, sesekali saya masih mengonsumsi minuman berkarbonasi,” ujarnya.
Bukan sebagai kebiasaan, tetapi sebagai respons tubuh—ketika energi mulai menurun, ketika jarak terasa lebih panjang dari biasanya.
“Itu juga belum tentu sebulan sekali,” tambahnya.
Bagi Kris, yang rutin menaklukkan jalur trail di Puthuk Siwur dengan jarak 20 hingga 25 kilometer, tubuh adalah sistem yang harus dipahami, bukan dipaksa.
Di titik ini, pola hidup sehat tidak lagi hitam-putih. Ia menjadi spektrum yang luas, di mana setiap orang mencari keseimbangannya sendiri.
Di sisi lain, industri makanan dan minuman menghadapi tantangan yang tidak kalah besar.
Dhedy Adi Nugroho, dari EuroCham Indonesia, menyebut perubahan preferensi masyarakat sebagai proses yang tidak instan.
Produk dengan kadar gula rendah hingga tanpa gula mulai diperkenalkan. Reformulasi dilakukan. Edukasi digencarkan. Namun semua itu tetap harus berhadapan dengan satu hal yang paling sulit diubah: selera.
“Pada dasarnya lidah orang Indonesia masih suka manis untuk minuman dan asin untuk makanan. Ini tradisi,” ujarnya.
Tradisi itu tidak salah. Tetapi di tengah meningkatnya kesadaran akan kesehatan, ia mulai diuji.
Di antara langkah-langkah lari Nana, pilihan menu di dapur, hingga strategi industri, ada satu benang merah yang menghubungkan semuanya: kesadaran.
Kesadaran bahwa tubuh perlu dirawat.
Kesadaran bahwa pilihan kecil—apa yang dimakan, kapan bergerak—membentuk dampak besar dalam jangka panjang.
Dan mungkin, seperti langkah-langkah kecil di pagi hari Lamongan itu, perubahan memang tidak harus dimulai dengan lompatan besar. Cukup satu langkah. Lalu satu langkah berikutnya. [beq]






