Ringkasan Berita:
- Menhaj RI menyambut kepulangan perdana Tim Musyrif Diny usai mendampingi operasional ibadah haji 2026.
- Sebanyak 30 ulama diterjunkan untuk memberikan pendampingan fikih kepada jemaah di berbagai sektor.
- Tim mengedepankan pendekatan fikih kemudahan bagi jemaah lansia, disabilitas, dan kelompok rentan.
- Musyrif Diny bersama Ditjen PHU tengah menyusun buku Panduan Haji Mabrur sebagai bekal jemaah setelah kembali ke Indonesia.
Jakarta (beritajatim.com) – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj RI), Mochamad Irfan Yusuf, secara resmi menyambut kepulangan perdana delegasi Tim Musyrif Diny yang telah menyelesaikan tugas pendampingan keagamaan pada operasional ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi. Prosesi penyambutan jajaran ulama, kiai, dan ahli fikih tersebut berlangsung di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan, yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, keberadaan Tim Musyrif Diny dinilai memiliki peran penting dalam mendampingi jemaah menghadapi berbagai persoalan fikih selama pelaksanaan ibadah haji sehingga seluruh rangkaian ibadah dapat dijalankan sesuai syariat Islam.
“Kami mengundang para kiai, ulama, dan ahli agama untuk bersama-sama memastikan seluruh proses dan ritual haji dilaksanakan sesuai tuntunan syariat. Kehadiran Musyrif Diny menjadi bagian penting dalam memberikan pendampingan keagamaan kepada jemaah,” ujar Menhaj Mochamad Irfan Yusuf di Bandara Soekarno-Hatta.
Anggota Tim Musyrif Diny Sektor 8 Makkah, KH Fathurrahman, mengatakan pada musim haji tahun ini terdapat 30 anggota tim ulama yang ditempatkan di berbagai sektor pelayanan. Mereka tidak hanya memberikan bimbingan manasik, tetapi juga mendukung pelaksanaan program Tri Sukses Haji Indonesia.
Untuk mengantisipasi kepadatan di Armuzna serta melindungi kondisi jemaah risiko tinggi, Tim Musyrif Diny mengedepankan pendekatan Manhaj At-Taisir atau fikih kemudahan. Pendekatan tersebut diterapkan untuk membantu jemaah lansia, penyandang disabilitas, serta jemaah perempuan yang mengalami uzur syar’i.
“Fokus utama kami adalah mendukung sukses spiritual. Kami harus memastikan seluruh pelaksanaan ibadah berjalan sesuai tuntunan fikih Islam sekaligus menjembatani berbagai pandangan keagamaan yang berkembang di tengah jemaah,” ujar KH Fathurrahman.
Menurutnya, pendampingan keagamaan tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun pemahaman Islam yang moderat dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan selama penyelenggaraan haji.
Hal senada disampaikan anggota Musyrif Diny Daker Makkah, Abdulloh Kafabihi. Menurutnya, keberagaman jutaan umat Islam yang berkumpul di Tanah Suci menjadi momentum untuk memperkuat ukhuwah islamiyah.
“Baitullah adalah tempat yang aman dan penuh keberkahan. Islam mengajarkan persatuan, kedamaian, dan kasih sayang. Nilai-nilai inilah yang harus terus dibawa dan disebarluaskan oleh para jemaah setelah kembali dari Tanah Suci,” ujarnya.
Sebagai langkah lanjutan, Tim Musyrif Diny saat ini berkolaborasi dengan Direktorat Jenderal Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah (PHU) Kemenhaj RI untuk menyusun buku Panduan Haji Mabrur. Buku tersebut dirancang sebagai panduan bagi jemaah setelah kembali ke daerah masing-masing.
Penyusunan panduan tersebut didasarkan pada pemahaman bahwa keberhasilan ibadah haji tidak hanya diukur selama berada di Makkah dan Madinah, tetapi juga tercermin dari perubahan perilaku, peningkatan kesalehan sosial, serta kontribusi jemaah di tengah masyarakat setelah kembali ke Tanah Air. [ian/MCH]






