Malang (beritajatim.com) – Pada masanya, Kota Malang berjaya sebagai kiblat fesyen Indonesia. Bahkan menjadi pesaing terkuat Bandung. Deretan brand clothing ternama lahir dari kota ini, mencatatkan namanya dalam peta industri kreatif nasional. Namun, seiring berjalannya waktu dan berubahnya lanskap bisnis, masihkah denyut nadi fesyen itu berdetak kencang di Kota Pendidikan ini?
Jauh sebelum dikenal luas karena pariwisata dan udaranya yang sejuk, Malang telah memantapkan dirinya sebagai kota mode. Kota ini tak henti berinovasi, melahirkan tren-tren baju modis yang digandrungi anak muda.
Status ini diperkuat oleh penelitian Yan Saniscara dalam “MALANG FASHION CENTER DENGAN PENDEKATAN BIOPHILIC CONTEXTUALISM”. Dalam penelitiannya, Yan menyebutkan bahwa Malang adalah gudangnya perancang busana kreatif dan model berbakat. Kehadiran institusi pendidikan pencetak desainer serta perhelatan akbar rutin seperti Malang Fashion Movement (MFM) menjadi indikator sahih betapa seriusnya kota ini menggarap sektor fesyen.
Seorang warga asli Malang, Edgar, bahkan memberikan analogi yang menarik. “Kalau Bandung itu Paris Van Java, Malang ini mungkin Italianya, ya,” kata dia.
Dia lantas melanjutkan, ramai sekali brand modis muncul dari Kota Apel. “Mungkin salah satunya yang bertahan sampai hari ini adalah Inspired,” kenangnya.
Namun, pertanyaan mendasar tetap menggantung: Bagaimana kondisi ekosistem ini sekarang?
Untuk menjawabnya, beritajatim.com berbincang dengan Muhammad Bahrul Aris, seorang pelaku usaha sablon generasi baru sekaligus pemilik brand Sablon.AND. Baginya, Malang hingga hari ini tetaplah kota yang sangat mengutamakan penampilan, yang secara langsung menciptakan pasar sekaligus persaingan amat ketat.
“Malang memang kota yang fesyennya harus didahulukan. Kondisi ini membuat pelaku usaha seperti saya, baik tukang sablon maupun pemilik clothing, sangat banyak. Persaingannya benar-benar ketat,” ujar Aris.
Perjalanannya sendiri bergelut dengan industri fesyen dimulai pada 2017, jauh dari gemerlap panggung mode. Bahrul merintis usaha dari bawah, dengan memproduksi kaus band-band lokal dan Arema untuk dijual di lapak-lapak non-resmi di luar area konser. Pengalaman inilah yang menempanya hingga berani mendirikan Sablon.AND pada 2019.
Menurutnya, meski pasar terus ada, terutama ditopang oleh sirkulasi mahasiswa yang cepat, lanskapnya telah berubah drastis. Aris mengamati, era keemasan di mana beberapa brand besar mendominasi pasar kini telah bergeser. Nama-nama legendaris seperti Inspired atau Heroine, yang dulu menjadi barometer, kini menghadapi tantangan baru.
“Seperti Inspired yang dulu gencar-gencarnya, di fase sekarang ini agak menurun. Bukan karena kualitas, tapi karena pelaku sablon dan jasa custom sekarang sudah menjamur dengan kualitas mereka masing-masing,” analisisnya.

Ia menambahkan, “Dulu Malang itu benar-benar menjadi kiblat fesyen. Saya percaya itu. Kalau kita main ke luar kota pakai bajunya Inspired, misalnya, itu sudah jadi barometer. Sekarang, ekosistemnya lebih terdistribusi.”
Fenomena menjamurnya pelaku usaha skala kecil dan menengah inilah yang menjadi jawaban atas kondisi fesyen Malang saat ini. Denyut nadinya tidak berhenti, melainkan bertransformasi. Jika dulu terpusat pada beberapa brand raksasa, kini energinya tersebar di antara puluhan bahkan ratusan pelaku usaha mandiri yang mengandalkan komunitas dan jejaring personal.
Strategi Aris sendiri adalah cerminan dari perubahan tersebut. Ia mengandalkan promosi dari mulut ke mulut (getok tular) dan membangun reputasi personal dengan terjun langsung ke berbagai komunitas.
Perubahan ekosistem ini juga didorong oleh mentalitas generasi baru pelaku usaha. Sebagai bagian dari Generasi Z, Aris melihat persaingan bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai sebuah dinamika yang menarik.
“Bagi kami, persaingan itu asyik. Waktunya tren ini, kita kejar. Waktunya tren itu, kita kejar lagi. Kami tidak melihatnya sebagai kompetisi berlebihan, tapi lebih mengutamakan persaudaraan,” jelasnya.
Menurutnya, generasi sekarang lebih mudah untuk saling bertukar ilmu, berbagi pengalaman, dan berkolaborasi. Budaya “saling senggol” yang mungkin ada pada generasi sebelumnya kini tergantikan oleh semangat untuk tumbuh bersama.
Malang kini, mungkin tidak lagi menjadi Italia-nya industri fesyen dalam konteks dominasi brand besar. Namun, semangat dan kreativitasnya tidak pernah padam. Denyut nadi itu kini berdetak lebih cepat di ruang-ruang produksi yang lebih kecil, di dalam komunitas yang solid, dan di tangan generasi baru yang melihat masa depan fesyen sebagai sebuah kolaborasi, bukan kompetisi. [dan/beq]






