Surabaya (beritajatim.com) – Klub sepak bola Persebaya Surabaya memiliki sekian potensi yang dibutuhkan dalam industri sepak bola nasional, bahkan Asia. Tantangan terbesarnya justru pada iklim sepak bola nasional.
Presiden Persebaya Azrul Anda selalu menekankan pentingnya bisnis yang berkelanjutan untuk menghidupi klub berjuluk Green Force tersebut. Setidaknya ada empat komponen pemasukan bagi sebuah klub sepak bola modern: tiket penonton, penjualan merchandise, bagi hasil hak siar televisi, dan sponsor.
Football is nothing without fans. Sepak bola tidak ada artinya tanpa penggemar. Persebaya memiliki aspek yang diidamkan semua klub sepak bola di dunia: fans yang loyal dan tahan banting. Bonek adalah kata kunci Persebaya bisa bertahan hari ini. Sepuluh tahun lalu, para suporter memperjuangkan eksistensi Persebaya yang mengalami dualisme dan menghadapi PSSI.
Medio 2013, tak ada yang berani membayangkan Persebaya di bawah naungan PT Persebaya Indonesia akan bisa berkompetisi lagi. Hanya orang-orang yang keras kepala dan meyakini bahwa ‘kemenangan hanya soal waktu’ yang percaya Persebaya akan bisa bertahan di tengah dualisme. Namun hasil tak mengingkari usaha. Persebaya akhirnya diakui PSSI dan kembali berkompetisi.
Loyalitas Bonek tak hanya terlihat saat masa krisis, tapi juga pada saat Persebaya berkompetisi. Jumlah penonton pertandingan kandang (home) Persebaya selalu berada di urutan atas penonton terbanyak bersama Persija Jakarta dan Persib Bandung.
Berdasarkan data Transfermarkt, Persebaya memiliki jumlah penonton terbanyak pada musim 2017-18, yakni 484.104 orang atau rata-rata 28.536 orang. Musim berikutnya, terjadi penurunan jumlah penonton menjadi 280.017 orang atau rata-rata 23.335 orang. Namun, jumlah ini masih masuk dalam empat besar.
Musim 2019-20, saat pertandingan baru berjalan tiga pekan dan dihentikan karena pandemi, dua pertandingan kandang Persebaya di GBT dihadiri 62.227 orang atau rata-rata 31.114 orang. Musim 2022-23, jumlah penonton turun drastis menjadi 106.689 orang atau rata-rata 9.699 orang, karena sebagian pertandingan dilakoni tanpa penonton atau dilakukan pembatasan akibat peristiwa Kanjuruhan.
Potensi besar di stadion berbanding lurus dengan potensi besar dalam hal penjualan pernik-pernik klub seperti kaos dan syal. Website resmi klub melaporkan, hampir dua ribu potong jersey bertema anniversary Persebaya ludes terjual hanya dalam waktu sehari semalam pada medio Juni 2021.
Siaran langsung pertandingan Persebaya juga termasuk yang sangat diminati. Menurut situs resmi klub, rating televisi Persebaya sepanjang 2018 mencapai 95,20 dan berada di urutan ketiga setelah Persib dan Persija. Padahal saat itu adalah tahun pertama Persebaya berkompetisi di Liga 1.
Semua hal itu membuat sponsor yang menjadi faktor penting lainnya untuk menghidupi Persebaya mendekat. Posisi Persebaya sebagai klub sepak bola legendaris dengan jumlah pendukung sangat besar tentu saja menggiurkan secara bisnis. Perpanjangan kontrak kerja sama dengan sponsor utama PT Kapal Api hingga empat tahun ke depan, sebagaimana diumumkan Azrul dalam laga anniversary, cukup untuk membuktikan kekuatan Persebaya dalam menggaet investor.
Dengan sehatnya finansial ini, tak lagi terdengar kisah pemain telat menerima gaji. Kini setiap awal musim, Bonek lebih disibukkan dengan pembicaraan soal siapa pemain baru Persebaya, berdebat soal harga tiket yang mahal tapi selalu ludes, atau soal jersey klub yang dijual resmi. Bukan lagi berselisih dengan manajemen klub soal hak-hak normatif pemain.
Namun potensi besar itu tentu saja berhadapan dengan situasi sepak bola yang tak ideal. Capaian prestasi Persebaya baru bisa terwujud jika sejalan dengan perbaikan kondisi sepak bola Indonesia. Revolusi manajerial yang dilakukan Azrul Ananda di tubuh Persebaya tak bisa dilepaskan dari ekosistem kompetisi yang baik dan sehat.
Bukan rahasia lagi, jika sepak bola Indonesia identik dengan patgulipat dan permainan di bawah meja. Pengaturan skor, sogokan untuk perangkat pertandingan, pemain, dan bahkan pelatih, sudah lama terdengar dan sebagian sudah terbukti di meja hijau. Selama lima tahun berkompetisi di Liga 1, Azrul menampik cara-cara lancung yang tidak saja menyebabkan sepak bola Indonesia tak sehat, tapi juga membebani klub dengan ekonomi biaya tinggi.
Ekonomi biaya tinggi lainnya adalah biaya operasional pertandingan, terutama dari aspek pajak dan pengamanan. Pertandingan Persebaya dianggap berisiko tinggi, sehingga jumlah petugas keamanan yang diturunkan bisa ribuan orang. Apalagi situasi sosial politik berpotensi memunculkan ketidakpastian.
Tahun 1998, kompetisi terhenti karena gelombang aksi unjuk rasa. Tahun 2020, kompetsi terhenti karena pandemi. Tahun 2022, peristiwa Kanjuruhan sempat membuat sepak bola Indonesia dalam ketidakpastian. Kita berharap pemilu 2024 tidak mengganggu kompetisi.
Ketidakpastian jelas merugikan Persebaya yang bergantung pada sponsor dan tiket penonton. Perusahaan yang ingin berinvestasi jelas enggan merugi, jika tiba-tiba kompetisi terhenti begitu saja karena alasan force majeur. Perubahan jadwal pertandingan sewaktu-waktu, termasuk digelar tanpa penonton atau pindah lokasi stadion dengan alasan beragam membuat pendapatan dari tiket tak bisa dimaksimalkan.
Pendapatan dari hak siar yang dibagi rata Rp 550 juta per bulan untuk masing-masing klub peserta Liga 1 musim 2022-23 juga tidak menguntungkan klub yang memiliki rating tinggi seperti Persebaya. Padahal jam dan jadwal tayang televisi seringkali membuat klub mengorbankan potensi perolehan tiket pada pertandingan-pertandingan tertentu.
Sekian persoalan ini membuat Persebaya kesulitan membuat rencana jangka panjang, termasuk mengontrak pemain dengan durasi lebih dari satu musim. Padahal sebuah rencana jangka panjang, baik secara bisnis maupun taktik, akan sangat menguntungkan Persebaya terutama dalam hal kesinambungan kehidupan klub.
Sebut saja mengontrak pemain dalam durasi lebih dari satu musim, membuat manajemen bisa menghemat dan tak terpengaruh dengan inflasi harga di bursa saham. Persebaya juga bisa menangguk keuntungan dari bursa transfer setiap musim dengan menawarkan pemain yang tak dibutuhkan ke klub lain dengan harga bagus. Selama ini Persebaya tak memperoleh apa-apa dari perpindahan pemain dengan durasi kontrak hanya setahun atau semusim. Bahkan klub ini harus kehilangan pemain-pemain pilar.
Dari aspek teknis, kontrak jangka panjang membuat komposisi tim Persebaya tidak banyak berubah dalam jangka waktu tertentu. Ini mempermudah pelatih menyusun skema permainan sekaligus menyolidkannya. Tim tak perlu mengalami perombakan total setiap musim. Perubahan besar-besaran komposisi pemain hanya akan membuat Persebaya labil dan selalu mengulang semua ikhtiar yang dilakukan mulai dari nol setiap musim.
Perubahan besar-besaran komposisi tim ini sering disalahpahami oleh Bonek sebagai ketidakseriusan manajemen Persebaya dalam berkompetisi. Manajemen Persebaya dianggap lebih mementingkan aspek keberlanjutan finansial daripada prestasi dengan gagal mempertahankan pemain-pemain kunci setiap musim. Tak semua Bonek memahami persoalan ini. [wir]






