Surabaya (beritajatim.com) – Dalam menghadapi perubahan iklim, Lembaga Pemulihan Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam (LPLH & SDA) MUI menyiapkan penerapan masjid ramah lingkungan di Indonesia dalam diskusi panel.
Kegiatan ini digelar jelang konferensi nasional masjid ramah lingkungan pada bulan November mendatang.
Ketua LPLH dan SDA MUI, Hayu Prabowo mengingatkan bahwa masjid harus siap menghadapinya. Salah satu cara menanggapinya yaitu dengan menjadi masjid yang ramah lingkungan.
“Masjid berkelanjutan atau masjid yang ramah lingkungan adalah masjid yang siap dan mampu mengurangi dampak dan mampu menghadapi risiko bencana serta dampak perubahan iklim. Selanjutnya masjid suci dan sehat yang menjamin akses air bersih , tata kelola sampah dan air limbah yang berkelanjutan. Kemudian masjid yang saling terhubung dalam konektivitas dan jejaring dai, jamaah dan masyarakat umum,” ungkap Hayu yang dikutip dari laman MUI, Kamis (20/10/2022).
Menurut Hayu, ada beberapa strategi yang harus diterapkan untuk menjadi masjid yang ramah lingkungan yaitu harus bisa beradaptasi melakukan penyesuaian umat dengan perubahan iklim saat ini dan mendatang.
[berita-terkait number=”5″ tag=”doa”]
Selain itu, diperlukan juga intervensi umat untuk mengurangi emisi dan meningkatkan penyerapan gas rumah kaca.
Hayu juga mengungkapkan bahwa masjid yang ramah lingkungan itu mencakup tiga hal. Pertama, idarah/pengurus, yang meliputi dakwah bil lisan dan bil hal serta penguatan kapasitas dan jejaring. Kedua, Imarah/jamaah, dalam hal ini meliputi tuntutan agama, life skill dan jejaring sosial.
Sedangkan yang ke tiga adalah Riayah/Bangunan. Dalam hal ini meliputi simpan air, hemat air, jaga air dan standar operasional.
Hayu menjelaskan, terkait pembahasan masjid ramah lingkungan sebenarnya bukanlah hal yang baru. Masjid ramah lingkungan sangat erat kaitannya dengan isu perubahan iklim yang terjadi di setiap daerah. Indonesia sendiri merupakan wilayah yang sangat rentan dengan perubahan iklim.
“Saat ini, bencana yang terjadi di Indonesia telah mencapai 80 persen,” ujar Hayu.
Dia menyebutkan, perubahan iklim dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Selain itu, perubahan iklim juga berdampak cukup besar, diantaranya adalah kelangkaan air, kerusakan ekosistem lahan, kerusakan ekosistem laut, penurunan kualitas kesehatan hingga kelangkaan pangan.
“DKI Jakarta setiap tahunnya mengalami penurunan antara 0,1 – 8 cm, di Bandung berkisar 0,1 – 4,3 cm, di Cirebon berkisar 0,28 – 4 cm per tahun, di pekalongan berkisar 2,1 – 11 cm pertahun, di Semarang berkisar 0,9 – 6 cm per tahun, dan di Surabaya berkisar 0,3 – 4,3 per tahun,” pungkasnya. (nap)






