Selamat datang di Glenbuck: sebuah desa kecil yang terletak di lembah Sungai Ayr, Skotlandia, dan dihuni sekitar 1.500 orang penduduk. Sebagian besar warga adalah buruh tambang batu bara, pada masa revolusi mesin uap. Rumah-rumah penduduk tidak teraliri udara, gas, maupun listrik.
Hanya ada dua ruangan di rumah penduduk. Mereka memasak, mengeringkan pakaian, dan menjerang air untuk para pekerja yang pulang di ruang keluarga. Tak ada transportasi umum, mobil, atau sepeda motor di sana.
Waktu seperti dibekukan dan setiap hari orang-orang bergerak dalam keteraturan yang menggelisahkan dan membuat penat: berangkat ke daerah tambang, menerima upah, pulang ke rumah. Imajinasi tak terlampau tinggi di sini dan menghantam atap rumah.
Di Glenbuck, kematian serasa dekat. Para pekerja itu mempertaruhkan nyawa, bisa tertimbun sewaktu-waktu dalam lorong bawah tanah. Antara 1884-1928, ada 12 kecelakaan kerja. Angka ini bisa saja lebih tinggi. Keluarga pekerja yang meninggal tertimbun langit-langit tambang hanya menerima ganti rugi 256 poundsterling.
Krisis ekonomi menghantam pada 1920-1926. Pemogokan umum terjadi pada Mei 1926, dipicu penutupan sejumlah lubang tambang, perpanjangan jam kerja, dan pemangkasan upah. Orang-orang Glenbuck bertahan selama tujuh bulan dan menyaksikan bagaimana mereka dikhianati Wakil Partai Buruh di parlemen.
Adam owley dan Robert Gillan dalam buku The Football Village: The Extraordinary Life and Times of Glenbuck and Its Famous Sons menyebut sepak bola katarsis, jalan hidup bagi orang-orang Glenbuck.
Sepak bola bukan sekadar kegembiraan di waktu senggang dan pelarian dari kesuraman hidup kaum pekerja, tapi juga identitas dan bagian dari apa yang didefinisikan sebagai kesejahteraan emosional.
Sepak bola adalah opsi bagi warga desa untuk membangun harapan, keluar dari jebakan Sisifus kehidupan buruh tambang.
Mereka membentuk klub sendiri dengan nama ganjil, Glenbuck Cherrypickers, dan memenangkan berderet trofi lokal di kawasan Ayrshire. Dari klub ini, Glenbuck membentuk reputasi. Setidaknya ada lebih dari 50 orang warga yang menjadi pesepakbola di seantero Britania Raya dan Amerika Serikat. Sebagian memperkuat tim nasional Skotlandia: William Muir, Alec Brown, George Halley, John Crosbie, dan Alec McConnell.
John dan Barbara Shankly membesarkan lima anak laki-laki dan lima anak perempuan, saat populasi penduduk berkurang dan tinggal 600 orang. Sebagian besar warga bermigrasi mencari lubang tambang yang lain di kota-kota tetangga. Anak-anak lelaki John dan Barbara mulai memanggul peralatan tambang pada masa remaja.
Hanya pada sepak bola mereka menemukan kemerdekaan. Alec, James, John Jr, Bob, dan William tumbuh lebih kuat di atas lapangan hijau.
Kelak, Alec akan bermain untuk Ayr United dan Clyde. James mencetak 39 gol dalam semusim untuk Barrow, dan sempat bermain untuk Carlisle, Sheffield United, Southend. John bertanding untuk Portsmouth, Luton Town, Hallifax, Coventry City, dan Alloa Athletic.
Bob menjadi warga desa yang paling banyak bertanding untuk tim nasional Skotlandia, yakni 13 kali. Dia bermain selama 17 tahun untuk Falkirk, dan menjadi manajer klub tersebut, selain melatih Dundee, Hibernian, dan terakhir menjabat direktur Stirling Albion.
Sepak bola dan kondisi kaum pekerja di Glenbuck adalah kombinasi inspirasi sempurna bagi William untuk merumuskan ideologi sosialismenya sendiri. Si bungsu itu meyakini sepak bola adalah manifestasi sosialisme.
Pada sepak bola, orang-orang menemukan kesamaan antara apa yang mereka alami di pusat tambang dengan di atas lapangan hijau: kolektivisme. Saat ada pekerja yang mati tertimbun saat bekerja, keluarganya bergantung kepada sesama buruh dan tetangga.
Shankly meyakini bahwa sosialisme tak selalu terkait dengan urusan politik, dan ia lebih menyebutnya sebagai cara bagaimana menjalani hidup. Ia belajar bagaimana kaum pekerja terjepit di antara hujatan kaum konservatif dan pengkhianatan tokoh-tokoh partai buruh.
“Ini masalah kemanusiaan. Saya percaya satu-satunya cara untuk hidup dan sukses adalah dengan ikhtiar bersama, dengan semua orang saling bekerja satu sama lain, semua orang membantu satu dengan lainnya, dan semua orang pada akhirnya berbagi pendapatan,” katanya.
Simon Crichtley, seorang profesor filsafat di New School for Social Research, menyebut sebuah tim sepak bola tak ubahnya sebuah unit kecil militer: kompak, terlatih, mobil, dan mengikuti rantai komando yang terang-benderang. “Sepak bola adalah kelanjutan perang dalam cara yang berbeda.”
Crichtley menyebut sosialisme sebagai bentuk politik sepak bola yang layak. “Kemerdekaan bukanlah pengalaman yang terpisah dari liyan, dan hanya bisa melalui dan dalam sebuah asosiasi, di mana tindakan kolektif terintegrasi dan mengelevasi tindakan individual.”
Dalam pandangan William, pada akhirnya, pesepakbola juga adalah kaum pekerja dan sebuah tim sepak bola adalah sebuah unit kerja yang bisa berjalan saat individualisme dikesampingkan. “Train the right way. Help each other. It’s a form of socialism without the politics,” katanya.
“Sosialisme yang saya yakini, adalah semua orang yang bekerja untuk tujuan yang sama dan setiap orang memiliki bagian dalam penghargaan. Itulah bagaimana saya melihat sepakbola, itulah bagaimana saya melihat kehidupan.”
Pernyataan ini kelak disitir pemimpin Partai Buruh Inggris Jeremy Corbyn saat berpidato di Echo Arena, Kota Liverpool, medio akhir September 2016. Orang-orang bertepuk tangan, dan mendadak terkenang pada sosok William: seorang pria yang disapa ‘Bill’ oleh warga kota itu, seseorang yang membuat orang bahagia dan mendongakkan kepala bangga untuk mengatakan ‘Kami Liverpool’. [wir]
Esai ini pernah dimuat di Beritajatim.com pada 2 Mei 2018 dengan judul ‘Sosialisme Sepak Bola dan Orang-Orang Glenbuck’. Dimuat kembali untuk mengenang Bill Shankly yang meninggal 29 September 1981.






