Yogyakarta (beritajatim.com) – Debat cawapres yang berlangsung pekan kemarin cukup seru dengan menghadirkan 3 cawapres yakni Cak Imin, Prof Mahfud dan Gibran Rakabuming. Dalam debat keempat ini disebut sebut mengenai smart farming. Lantas bagaimana penjelasan kaitan smart farming ini? berikut beritajatim.com sajikan ulasannya secara lengkap.
Dalam debat ke-4 ini salah satunya menyinggung persoalan pangan dan pertanian. Dalam pembahasan pertanian, salah satu calon Wakil Presiden sempat menyampaikan salah satu solusi guna mengatasi kelangkaan pupuk adalah dengan pemanfaatan teknologi smart farming.
Menurut pengamat pertanian, agroklimatologi dan perubahan iklim, Bayu Dwi Apri Nugroho, STP., M.Agr., Ph.D menuturkan smart farming bisa diartikan sebagai pengembangan sistem pertanian berbasis teknologi (Information Technology).
Bayu menjelaskan sektor pertanian hingga saat ini diyakini masih menjadi sektor yang mampu berkontribusi positif dalam mewujudkan pembangunan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor pertanian masih menjadi salah satu dari tiga sektor utama penggerak ekonomi nasional setelah industri dan perdagangan.
Kebijakan pangan pemerintah yang direpresentasikan dalam berbagai program terobosan pembangunan pertanian bermuara pada tujuan utama untuk mencapai kedaulatan pangan dan peningkatan kesejahteraan petani maupun masyarakat umum. Pemerintah dan masyarakat saling berbenah dan berinovasi untuk pengembangan pertanian, salah satunya melalui pengembangan teknologi digital dalam pertanian.
“Teknologi digital ini tentunya dapat dimanfaatkan selama proses on farm dan off farm”, jelas Bayu melansir siaran pers Jumat (26/1/2024).
Bayu menjelaskan pengembangan teknologi digital melalui perangkat mobile juga merupakan salah satu bentuk inovasi pertanian yang bertujuan untuk meningkatkan peluang bagi petani dalam mengakses informasi tentang komoditas pertanian dalam jangka waktu yang cepat, terutama untuk memonitor harga dan ketersediaan komoditas pertanian seperti bibit dan pupuk, informasi luas tanaman komoditas, prediksi masa panen dan sarana untuk mengumpulkan kelompok tani.
Potensi sistem pertanian digital dinilainya membuka peluang besar dalam meningkatkan semangat dan kreativitas pemuda untuk terjun ke bidang pertanian. Dalam beberapa dekade terakhir, jumlah pemuda yang memilih bertani mengalami penurunan pesat.
Tidak sedikit diantara mereka yang lebih memilih merantau dan bekerja di kota di sektor selain pertanian, dan hanya tersisa generasi tua yang masih mau pergi menggarap sawah di desa. seiring dengan berkembangnya zaman dan teknologi, permasalahan-permasalahan dalam pertanian pun juga tidak lagi bisa diselesaikan hanya dengan mengandalkan sistem tradisional yang telah diturunkan secara temurun.
“Karenanya smart farming hadir sebagai terobosan baru metode pertanian cerdas yang memadukan teknologi sensor tanah dan cuaca dengan Agri Drone Sprayer (drone pertanian penyemprot pestisida). Teknologi ini memungkinkan petani pengguna smart farming mengakses data dari sensor maupun drone secara realtime, akurat dan nyata melalui smartphone”, jelasnya.
Lebih lanjut Bayu menjelaskan bila pembaharuan data dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani, sebagai contoh realtime setiap 5 menit, 10 menit, 15 menit dan seterusnya. Sementara teknologi sensor yang terpasang di lahan pertanian, mampu memberikan peringatan jika kondisi tanah maupun cuaca tidak dalam keadaan optimum.
Tak hanya data kondisi lahan, para petani juga akan mendapatkan rekomendasi tentang langkah-langkah yang harus dilakukan guna mencegah kerusakan terhadap tanaman mereka. Agri Drone Sprayer sendiri akan membantu kerja petani dalam memberantas hama dan penyakit dengan penggunaan pestisida yang lebih terukur dan presisi.
Penggunaan teknologi dalam pertanian diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan para petani. Pengembangan penggunaan teknologi seperti ini sangat dibutuhkan untuk pertanian di Indonesia.
Ia menilai Agriculture bisa menjadi agri”cool”ture dan akan menarik minat para pemuda untuk bertani. Potensi ekonomi daerah pun akan turut meningkat karena anak muda di desa tidak lagi berkecenderungan meninggalkan desa dan pertanian.
“Ini memberi harapan untuk ketahanan pangan nasional. Berada di tangan para petani maka masa depan pertanian Indonesia sudah seharusnya pertanian cerdas berbasis teknologi”, tutupnya. [aje]






