Malang (beritajatim.com) – Teknologi semakin berkembang dan melahirkan Internet-of-Things dan kecerdasan buatan (AI). Kini, banyak perangkat yang dapat dioptimalkan tanpa perlu campur tangan manusia.
Ini berarti manusia tidak lagi harus mengoperasikan hardware atau software, karena semuanya sudah terkoneksi melalui internet.
Namun, AI dan IoT masih terasa asing bagi sebagian besar orang. Pemanfaatan AI untuk riset juga masih jarang ada di Indonesia. Inilah yang mendorong Utara Setya Wardaya, mahasiswa Fakultas Ilmu Komputer Universitas Brawijaya untuk membuat startup Reetech.
“AI itu perkembangannya cepat, peminatnya banyak, tapi penerapannya sedikit. Setelah kita telusuri, perusahaan-perusahaan bukan tidak punya anggaran untuk AI, tapi mereka lebih bingung, ‘AI itu apa’, dan sebagainya. Makanya kita buat Reetech agar fokus di AI dan IoT service pertama di Indonesia,” kata Utara.
Mahasiswa yang baru berusia 22 tahun itu bercita-cita untuk memiliki lab risetnya sendiri untuk mengembangkan produk-produknya.
“Aku ingin punya lab untuk mengembangkan riset IoT dan AI. Mengembangkan teknologi anak bangsa, baik untuk komersil (profit) atau tidak,” katanya.
Dalam membuat Reetech, Utara dibantu oleh temannya yang juga dari Filkom Universitas Brawijaya yaitu Dandy Ramadhany. Yang menarik, Reetech adalah proyek pertama Dandy di bidang AI.
“Karena memang aku dari program studi Teknik Komputer ya, dan sangat dekat dengan IoT. Sedangkan kalau AI masih belum terlalu kuasai. Jadi di Reetech aku belajar tentang AI, software house, dan startup,” kata Dandy.
Berbeda dengan Utara. Sebelum terlibat di Reetech, ia sudah banyak mengikuti berbagai proyek dan lomba yang berkaitan dengan IoT dan AI.
“Sebelumnya pernah buat proyek otomasi yang aku terapkan di bisnisku yang lain. Kemudian pernah juga kerjakan proyek IoT di bidang kesehatan dimana dokter tidak perlu lagi menguji rabun jauh dengan lensa. Pemeriksaan dari dokter dilakukan dengan menggunakan IoT dan bantuan kamera 3D,” cerita Utara.
Proyek itu ternyata berhasil masuk dalam kompetisi Pimnas (Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional) 2021.
Menjadi pengusaha muda dalam startup yang bergerak di bidang IoT dan AI, Utara dan Dandy menghadapi banyak tantangan.
“Aku belajar menciptakan AI yang bagus untuk dijual ketika di Reetech, karena sebelumnya kan hanya buat-jual, buat-jual saja. Sejak buat Reetech, aku harus memikirkan strategi bisnisnya, menghemat anggarannya seperti apa, dan menekan biaya produksinya seperti apa. Sebagai pengusaha tentunya waktu istirahat juga berkurang ya, itu sesuatu yang tak bisa dielakkan,” ungkap Utara.
Sama seperti Utara, Dandy juga merasakan hal yang sama. Membuat perusahaan baru datang dengan berbagai tantangan untuk memastikan bisnis bisa berjalan lancar.
“Waktu itu pernah SOP kita belum rinci. Ketika ada kesepakatan dengan klien dan engineer ternyata di tengah jalan ada yang merugikan kita. Dari situ belajar bahwa masih ada yang perlu diperbaiki nih di segi administrasinya. Itu yang aku lihat dari segi bisnis ya,” ungkap Dandy.
Meski demikian, memiliki bisnis sebagai anak muda tidak selalu hal yang menakutkan. Dandy memberikan salah satu tips jika ingin berhasil dalam membuat bisnis.
“Kalau mau terjun ke bisnis, jangan setengah-setengah. Resikonya harus belajar banyak, karena niat untuk berhasil di dunia bisnis itu tidak gampang. Harus totalitas, mulai ambil langkah dulu, nanti juga tahu kelemahan-kelemahan kita,” tutupnya. (ted)
===================
Konten Kerjasama beritajatim.com dengan Ngalup Collaborative Network
Ngalup Coworking Space yang saat ini bertransformasi menjadi Ngalup Collaborative Network, adalah wadah bagi para talent, stakeholders, dan berbagai lini bisnis untuk kolaborasi dan berjejaring. Kami menyadari kebutuhan akan perubahan dan tantangan zaman yang semakin berkembang, menjadikan Ngalup tidak hanya sebagai tempat melainkan fasilitator.






