Gresik (beritajatim.com)- Setiap malam 23 Bulan Ramadan 1446H ada tradisi yang sudah turun-temurun sejak 500 tahun lalu. Naman tradisi itu adalah kolak ayam (Sanggring) peninggalan Sunan Dalem anak dari Sunan Giri penyebar agama islam di Pulau Jawa.
Tradisi sanggring yang berusia ratusan tahun itu, sampai saat ini tetap terjaga kelestariannya. Sejak pagi hari warga Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, Gresik, menyiapkan tradisi tersebut sampai berbuka puasa.
Uniknya yang meracik kolak ayam bukan perempuan, melainkan juru raciknya laki-laki. Mulai dari membuat bumbu, meracik, memasak, hingga cara menyajikan di piring.
Perayaan sanggring yang digelar sekarang berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini, tradisi tersebut digelar lebih meriah dengan mengundang tamu dari luar daerah. Hal ini dilakukan supaya tradisi sanggring lebih dikenal luas secara nasional.
Ketua Panitia Pelaksana Tradisi Sanggring, Didik Wahyudi mengatakan, tahun ini pihaknya menyiapkan total 5.000 porsi. Dari jumlah itu, 3.500 porsi untuk tamu.
“Untuk membuat semua itu, ada 300 ekor ayam yang disiapkan. Prosesnya pun sejak kemarin dimasak bergantian di halamam Masjid Jamik Sunan Dalem,” katanya, Sabtu (22/3/2025).
Selain ayam lanjut dia, pembuatan kolak ayam ini juga menggunakan bumbu-bumbu. Diantaranya
740 kilogran gula merah, 240 kilogram daun bawang, 600 butir kelapa dan 50 kilogram jinten.
“Semua bumbu itu, diracik jadi satu kemudian kalau sudah matang ditakar satu persatu. Selanjutnya, dimasukkan ke wadah atau piring lalu dibagikan ke warga saat berbuka puasa,” ujar Didik.
Ada yang berbeda dalam kegiatan sanggring kali. Panitia melibatkan generasi muda agar tradisi leluhur ini tetap lestari dan tidak hilang di masa mendatang. Sejumlah anak muda pun tak canggung membantu menata makanan kolak ayam di piring sebelum disajikan.
Awal tradisi ini bermula dari Kanjeng Sunan Dalem anak Sunan Giri yang juga penyebar agama islam sedang sakit, dan belum ditemukan obatnya. Setelah dibuatkan obat mujarab berupa kolak ayam. Kanjeng Sunan Dalem yang semula sakit bisa sembuh.
Secara filosofis kata Sanggring berarti raja. Sedangkan ‘Gring’ berarti gering, atau sakit. Bila diartikan obat untuk raja yang sakit. Makanan tradisional ini pertama kali dikenalkan 22 Ramadan 946 H, atau 31 Januari 1540 masehi.
Para tamu dari luar Gresik yang mengikuti semarak sanggring di Masjid Sunan Dalem, akan bertandang ke rumah warga setempat, dan disuguhi menu yang sama. Semakin banyak tamu, semakin banyak pula sedekah. Harapannya tradisi peninggalan Sunan Dalem ini tetap dilestarikan ditengah era digitalisasi. [dny/kun]






