Surabaya (beritajatim.com) – Hajar Aswad, atau Batu Hitam, adalah sebuah objek yang sangat dihormati dalam agama Islam. Terletak di sudut timur Ka’bah, bangunan paling suci di Masjidil Haram, Mekkah, Hajar Aswad dianggap sebagai salah satu peninggalan yang sangat penting dalam sejarah Islam.
Hajar Aswad adalah sebuah batu yang berwarna hitam, terdiri dari beberapa fragmen kecil yang disatukan oleh sebuah bingkai perak. Batu ini diyakini berasal dari surga dan diberikan kepada Nabi Ibrahim oleh malaikat Jibril. Batu ini memiliki diameter sekitar 30 cm dan diletakkan di salah satu sudut Ka’bah.
Menurut tradisi Islam, Hajar Aswad awalnya berwarna putih, lebih putih dari susu, tetapi menjadi hitam akibat dosa-dosa manusia yang menyentuhnya. Para peziarah yang melakukan ibadah haji atau umrah mencium atau menyentuh Hajar Aswad sebagai bagian dari ritual tawaf, yaitu mengelilingi Ka’bah tujuh kali.
Dalam Al-Qur’an, tidak ada ayat yang secara langsung menyebutkan Hajar Aswad. Namun, kehormatan dan pentingnya Hajar Aswad banyak disebutkan dalam hadis-hadis Nabi Muhammad SAW. Salah satu hadis yang terkenal adalah:
“Dari Ibnu Abbas RA, Nabi Muhammad SAW bersabda: ‘Hajar Aswad turun dari surga, dalam keadaan lebih putih dari susu, kemudian dosa-dosa anak cucu Adamlah yang membuatnya menjadi hitam.'” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadis ini menunjukkan bahwa Hajar Aswad memiliki asal-usul yang suci dan disucikan dalam tradisi Islam.
Selain itu, dalam riwayat lain, Umar bin Khattab RA pernah berkata ketika mencium Hajar Aswad:
“Sungguh aku tahu bahwa engkau hanyalah sebuah batu, tidak mendatangkan manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya. Kalau bukan karena aku melihat Rasulullah SAW menciummu, niscaya aku tidak akan menciummu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernyataan Umar bin Khattab ini menekankan bahwa penghormatan terhadap Hajar Aswad didasarkan pada teladan yang diberikan oleh Nabi Muhammad SAW, bukan karena batu tersebut memiliki kekuatan magis.
Sejarah Hajar Aswad sangat erat kaitannya dengan pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail. Mereka berdua membangun Ka’bah sebagai rumah ibadah kepada Allah. Ketika mereka selesai membangun Ka’bah, Hajar Aswad ditempatkan di salah satu sudut sebagai tanda dan simbol penting. Batu ini telah melalui banyak peristiwa sejarah, termasuk perusakan dan perampasan oleh berbagai kelompok. Namun, batu ini selalu berhasil dikembalikan dan dihormati oleh umat Islam.
Hajar Aswad bukan hanya sebuah batu hitam yang disematkan di Ka’bah, tetapi juga simbol keimanan dan ketakwaan umat Islam kepada Allah. Dengan banyaknya riwayat dan hadis yang mendukung kehormatan batu ini, Hajar Aswad tetap menjadi salah satu elemen penting dalam ibadah haji dan umrah. Bagi jutaan umat Islam yang mengunjungi Mekkah setiap tahunnya, mencium atau menyentuh Hajar Aswad adalah momen spiritual yang sangat mendalam dan penuh makna. Dengan demikian, Hajar Aswad tetap menjadi salah satu warisan suci yang menghubungkan umat Islam dengan sejarah panjang keimanan dan pengabdian kepada Allah SWT. [aje]






