Surabaya (beritajatim.com) – Dari namanya mungkin akan mengira istilah sandwich ini sebagai makanan. Namun bukan itu, sandwich generations atau generasi sandwich merupakan istilah yang digunakan oleh Prof. Dorothy A. Miller untuk menggambarkan orang dewasa yang terhimpit di antara kebutuhan lintas generasi.
Istilah yang dikenalkan pada tahun 1981 oleh Direktur Universitas tersebut mengartikan jika generasi sandwich harus mencukupi kebutuhan dirinya, keluarganya sendiri, dan orang tua. Penghasilan dalam bidang pekerjaan pun menjadi tulang punggung utama dari keluarga.
Seiring pembangunan di berbagai bidang, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa rata-rata Angka Harapan Hidup Manusia di Indonesia telah mencapai 73 tahun, naik dari tahun-tahun sebelumnya yang berada di angkat 60-an tahun. Di samping itu, data juga menunjukkan jika sumber pembiayaan kelompok usia lansia masih bergantung pada sokongan anggota rumah tangga yang bekerja sebanyak 77,82%, seperti anak atau anggota
keluarga lain.
Sebagian mungkin menganggap kontribusi generasi sandwich dalam menyokong hidup orang tuanya sebagai bentuk balas budi, bakti dan itu hal yang tidak salah. Namun sebenarnya, juga perlu mengelola dengan bijak keuangan yang dimiliki agar tidak sampai ada salah satu kebutuhan yang terpaksa dikorbankan.
Generasi ini pun dikatakan punya resiko untuk mengalami depresi dan kecemasan sebagai hasil dari meningkatnya tekanan beserta tuntutan untuk memenuhi kebutuhan keluarga juga orang tua. Adanya konflik peran yang mereka jalani baik sebagai anak atau menantu, istri maupun suami, ayah atau ibu, maupun sebagai pekerja. Kesibukan mencari tambahan penghasilan juga seringkali menyita waktu untuk sekedar memberi ruang penyegaran bagi diri sendiri. Agar tidak terjebak pada generasi sandwich, beberapa cara berikut ini bisa dilakukan.
Pertama, meningkatkan financial literacy yaitu cara pengelolaan keuangan dengan baik, termasuk investasi, budget planning, asuransi, consumption habit, dan menabung khususnya untuk pensiun dan dana pendidikan anak sedini mungkin. Kedua, komunikasikan hal itu dengan anggota keluarga yang lain guna meringankan beban sebagai satu-satunya penopang dan penyokong kebutuhan orang tua.
Ketiga, upayakan untuk mencari penghasilan tambahan karena dengan ini bisa meningkatkan pendapatan. Keempat, lakukan komunikasi secara asertif dengan orang tua mengenai batasan finansial yang bisa diberikan kepada orang tua. Kelima, belajarlah untuk mengelola emosi khususnya saat stress dan mengeksplorasi cara sehat guna mengekspresikannya.
Jika Anda merasa sebagai salah satu generasi sandwich, ingatlah bahwa Anda tidak sedang sendiri, ada banyak orang yang menanggung beban serupa. Jadi jangan sampai stres dalam menghadapi kenyataan sebagai generasi sandwich. (dan/tur)






