Surabaya (beritajatim.com) Penyakit Batu Empedu (Cholelitiasis) telah menjadi masalah di masyarakat. Dari data yang dihimpun beritajatim dari jurnal kesehatan Poltekkes Tanjung Karang, prevalensi penyakit batu empedu pada masyarakat Asia berkisar antara 3% sampai 10%. Di Indonesia sendiri berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan bahwa prevalensi penyakit Batu Empedu pada usia dewasa adalah sebesar 15,4%. Angka itu meningkat dibanding tahun 2016 dengan tingkat prevalensi 11,7%.
dr. Dayu Satriya Wibawa Sp.B FINACS, seorang dokter ahli bedah di beberapa rumah sakit ternama di Surabaya menjelaskan bahwa Penyakit batu empedu adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan adanya pembentukan batu di dalam kantung empedu.
Kantung empedu adalah organ kecil berbentuk seperti kantong yang terletak di bawah hati. Tugas utama kandung empedu adalah menyimpan empedu yang diproduksi oleh hati dan mengeluarkannya ke dalam usus. Cairan Empedu sendiri merupakan pengemulsi yang berfungsi melarutkan lemak dalam air, sehingga dapat dicerna dan diserap usus.
“Penyebab utama pembentukan batu empedu adalah ketidakseimbangan zat-zat dalam empedu, seperti kolesterol, kalsium, dan pigmen empedu,” ujar dokter Dayu ketika diwawancarai Beritajatim, Sabtu (15/08/2023).
Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengalami penyakit batu empedu. Seperti obesitas, riwayat keluarga dengan penyakit batu empedu, diet yang tinggi lemak dan kolesterol, serta kondisi medis tertentu seperti diabetes, hati berlemak, atau penyakit radang usus.
Tanda dan gejala yang sering terkait dengan penyakit batu empedu adalah nyeri perut kanan atas, terutama setelah makan makanan berlemak. Seringkali nyeri tersebut dirasakan tembus ke pinggang belakang sebelah kanan. Nyeri bisa berlangsung selama beberapa menit hingga beberapa jam.
“Gejala lainnya meliputi kembung, mual, muntah, hilangnya nafsu makan, sendawa, dan perubahan warna feses. Pada fase awal, gejalanya sangat mirip dengan sakit maag,” imbuh Pria yang juga menjadi Dosen di Fakultas Kedokteran Unusa.
Untuk mencegah penyakit Batu empedu, seseorang harus menjaga berat badan dengan pola makan seimbang dan rendah lemak. Menghindari makanan tinggi kolesterol, meningkatkan asupan serat dan aktivitas fisik secara teratur. “Tidak minuman beralkohol juga bisa membantu mengurangi resiko pembentukan batu empedu,” tutur dokter Dayu.
Dokter Dayu mengatakan, banyak mitos yang salah terkait penyakit batu empedu yang dipercaya masyarakat. Seperti, mengkonsumsi minyak zaitun, minyak kelapa, maupun nanas secara rutin bisa melarutkan batu empedu.
Menurut Dokter Dayu, bahwa tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim yang beredar. Satu-satunya cara untuk menghilangkan batu empedu yang ada adalah dengan pengangkatan kandung empedu.
“Pengangkatan kantong empedu itu tidak berkaitan dengan daya tahan tubuh, maupun menurunya stamina. Kantong empedu tidak ada kaitannya dengan penyaring racun dalam tubuh,” jelas Ahli Bedah RSI Jemursari dan RSI Ahmad Yani ini.
Penyakit batu empedu merupakan penyakit yang berbahaya jika tidak segera ditangani. Penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi serius seperti peradangan kantung empedu, infeksi, atau tersumbatnya saluran empedu. Tersumbatnya saluran empedu dapat menyebabkan komplikasi yang sangat serius yaitu radang Pankreas atau Pankreatitis. “Untuk menyembuhkan batu empedu bisa dengan metode bedah dan non bedah,” kata pria dengan dua anak itu.
Pengangkatan kantong empedu dapat dilakukan secara bedah terbuka dengan membuat irisan sepanjang 10 cm di bawah tulang rusuk kanan. Dapat juga dilakukan dengan bedah minimal invasif atau Laparoscopy, dengan membuat irisan kecil sepanjang 0,5-1 cm di 3 titik. Kedua prosedur tersebut sama-sama mengangkat kantong empedu. (ang/kun)






