Ringkasan Berita:
- Makhsun Arif Hidayat atau Ndan Arif, kader senior Banser asal Musi Rawas Utara, menempuh perjalanan ribuan kilometer dengan sepeda menuju Muktamar ke-35 NU di Tambakberas, Jombang.
- Perjalanan selama 14 hari melintasi Sumatra hingga Jawa menjadi wujud rasa syukur dan pengabdian Ndan Arif kepada Nahdlatul Ulama di usia yang telah mencapai 56 tahun.
- Kedatangan Ndan Arif di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas disambut hangat keluarga besar KH Abdul Wahab Chasbullah dan para kader NU, setelah menempuh perjalanan penuh perjuangan.
Jombang (beritajatim.com) – Suara deru kendaraan besar yang melintas tak menyurutkan langkah Makhsun Arif Hidayat (56). Di atas sepeda gunungnya, pria yang akrab disapa Ndan Arif itu terus mengayuh pedal, menembus panjangnya jalan lintas provinsi demi satu tujuan: hadir di tengah semarak Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) Tambakberas, Jombang.
Keringat yang mengalir di wajahnya sesekali diseka dengan tangan. Namun, senyum kepuasan tetap terpancar ketika roda sepedanya mulai mendekati kawasan Tambakberas. Beberapa kelokan lagi, perjalanan panjang yang telah ditempuhnya akan menemukan akhir.
Di sepeda gunung berwarna itu berkibar dua bendera kebanggaan. Sang saka merah putih berdampingan dengan bendera hijau berlogo Nahdlatul Ulama. Dua simbol tersebut menjadi penanda semangatnya sebagai warga negara sekaligus bagian dari keluarga besar Nahdliyin.
Perjalanan yang berawal dari Musi Rawas Utara, Sumatra Selatan, itu akhirnya berakhir dengan sambutan hangat. Setibanya di Posko Banser sekitar PPBU Tambakberas, Ndan Arif disambut penuh penghormatan oleh para kader yang telah menantinya.
Bukan sekadar perjalanan fisik, kayuhan sepeda Ndan Arif menjadi cerita tentang ketulusan, pengabdian, dan cinta terhadap organisasi yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Sebagai kader senior Barisan Ansor Serbaguna (Banser), Ndan Arif membulatkan tekad menempuh ribuan kilometer melintasi Pulau Sumatra hingga Jawa. Ia ingin menjadi bagian dari sejarah Muktamar ke-35 NU, bukan sebagai peserta utama, melainkan sebagai penggembira yang hadir dengan cara sederhana namun penuh makna.
Pria kelahiran Majenang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, tersebut telah menetap di Musi Rawas Utara sejak 2012. Perjalanan panjang menuju Tambakberas bukanlah keputusan spontan. Ia telah mempersiapkan fisik dan mental sejak lima bulan sebelum lokasi muktamar ditetapkan.
Baginya, kayuhan demi kayuhan merupakan bentuk rasa syukur kepada Allah SWT atas nikmat kesehatan yang masih diberikan. Di usia yang telah melewati separuh abad, ia merasa masih diberi kesempatan untuk berkhidmah dan memberikan tenaga bagi Nahdlatul Ulama.
Perjalanan 14 Hari
Perjalanan selama 14 hari penuh akhirnya mengantarkan Ndan Arif tiba di Tambakberas pada Selasa malam (18/8/2026). Selama berada di atas sadel sepeda, ia mengaku tidak menghadapi kendala berarti.
Justru sepanjang perjalanan, ia menemukan banyak kehangatan dari sesama kader NU. Dukungan datang dari berbagai daerah yang dilintasinya, menjadi energi tambahan untuk menyelesaikan misi sederhana namun penuh nilai perjuangan tersebut.
Saat melewati Lampung, Pengurus Wilayah GP Ansor Lampung memberikan sambutan istimewa. Dedikasi Ndan Arif mendapat penghormatan dengan pengawalan dari jajaran Ansor Lampung selama perjalanan di wilayah Bumi Ruwa Jurai.
Setibanya di Jakarta, Ketua Umum PP GP Ansor Addin Jauharudin turut menyambut dan melepas keberangkatan Ndan Arif dari Markas Komando PP GP Ansor Pusat. Ia juga menginstruksikan kader Ansor dan Banser di sepanjang jalur lintas Jawa untuk menyapa serta memberikan penghormatan kepada perjalanan pengabdian tersebut.
Dukungan serupa juga mengalir dari berbagai tingkatan organisasi, mulai dari PWNU, PCNU, hingga MWC NU di daerah-daerah yang dilewati.
Disambut Cucu Mbah Wahab
Puncak haru perjalanan itu terjadi ketika roda sepeda Ndan Arif akhirnya memasuki kawasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Cucu pendiri NU KH Abdul Wahab Chasbullah, yakni Gus Ahmad Silahuddin Asya’ari (Gus Adi) dan Gus Heru, menyambut langsung kedatangan veteran Banser tersebut bersama para kader setempat.
Berdiri di tanah Tambakberas pada Rabu (19/8/2026), ingatan Ndan Arif tertuju kepada sosok besar KH Abdul Wahab Chasbullah. Baginya, Mbah Wahab bukan hanya pendiri NU, tetapi juga pahlawan nasional, penggerak perjuangan umat, sekaligus arsitek utama lahirnya organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.
Ketika diminta mengungkapkan pandangannya tentang sosok Mbah Wahab, suara Ndan Arif sempat bergetar. Ia menahan haru hingga sulit merangkai kata untuk menggambarkan besarnya perjuangan sang pendiri NU.
“Rasa lelah setelah 14 hari mengayuh sepeda seolah menghilang Ketika mendapat sambutan hangat dari keluarga besar keturunan Mbah Wahab di Tambakberas. Saya sampaikan terima kasih,” ujar Ndan Arif.
Kini, setelah menempuh perjalanan panjang dengan penuh keteguhan hati, Ndan Arif hanya berharap Muktamar ke-35 NU dapat berjalan sejuk dan damai. Ia berharap forum besar tersebut mampu melahirkan pemimpin PBNU yang istiqamah dalam mengayomi Jam’iyah An-Nahdliyah hingga ke seluruh lapisan masyarakat.
Perjalanan seorang kader Banser dari Sumatra Selatan itu pun menjadi pesan bahwa pengabdian tidak selalu hadir melalui panggung besar. Terkadang, ia hadir lewat kayuhan sepeda, peluh yang jatuh di jalanan, dan hati yang tulus untuk terus berkhidmah. [suf]






