Malang (beritajatim.com) – Konflik berkepanjangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel sering kali dipandang publik sebagai pertentangan ideologi atau agama semata. Namun, perspektif sejarah mengungkap bahwa dinamika di Timur Tengah jauh lebih kompleks, melibatkan pergeseran pola perang dan benturan kepentingan nasional yang dinamis.
Dosen sekaligus Sekretaris Departemen Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Arif Subekti, S.Pd., M.A., menegaskan bahwa untuk memahami ketegangan ini, masyarakat harus melihat secara diakronik—memperhatikan perubahan dan keberlanjutan dari waktu ke waktu.
“Sejarah melihat apa yang terjadi dari waktu ke waktu, proses yang terus bergerak. Kalau geopolitik itu melihat realitas seperti papan catur,” ujar Arif saat memberikan keterangannya di Malang, Rabu (15/4/2026).
Dalam kajian sejarah militer, Arif menjelaskan bahwa perang telah berevolusi dari konfrontasi fisik secara langsung di masa lampau menjadi bentuk yang lebih rumit di era modern. Salah satu fenomena yang paling menonjol dalam konflik Iran dan lawan-lawannya adalah penggunaan perang proksi (proxy war).
Menurutnya, aktor utama dalam konflik hari ini tidak selalu berhadapan langsung di medan tempur. “Perang hari ini tidak selalu mempertemukan dua pihak secara langsung. Ada keterlibatan banyak aktor, seperti bidak catur yang disuruh maju duluan,” jelasnya.
Fenomena ini terlihat jelas dalam cara Iran mendukung kelompok-kelompok tertentu di kawasan untuk mengamankan posisi strategisnya tanpa harus memicu perang terbuka berskala besar secara prematur.
Arif juga menyoroti istilah “Timur Tengah” yang sebenarnya merupakan konstruksi perspektif Barat. Pembagian wilayah seperti Near East, Middle East, hingga Far East mencerminkan sudut pandang geografis Eropa yang diperkenalkan oleh tokoh seperti Alfred Thayer Mahan untuk memetakan kepentingan global.
Terkait hubungan antarnegara, ia mengingatkan bahwa koalisi di kawasan tersebut sangat tidak permanen. Sebagai contoh, Iran dan Israel pernah berada dalam hubungan yang cukup dekat sebelum pecahnya Revolusi Iran pada tahun 1979.
“Koalisi di Timur Tengah itu sangat dinamis. Revolusi 1979 mengubah Iran dari monarki di bawah Shah menjadi republik Islam, yang kemudian merombak total hubungan internasionalnya, terutama dengan Amerika Serikat,” tambahnya.
Meskipun narasi agama sering muncul ke permukaan, Arif menekankan bahwa national interest atau kepentingan nasional adalah motor penggerak utama. Faktor sumber daya ekonomi, keamanan kawasan, hingga isu pengembangan nuklir menjadi titik krusial ketegangan.
Terkait nuklir, perbedaan persepsi terhadap implementasi Non-Proliferation Treaty (Perjanjian Non-Proliferasi) kerap menjadi pemantik gesekan diplomatik maupun militer. Arif berpendapat bahwa sejarah memang memberikan latar belakang, namun bukan satu-satunya penentu kebijakan saat ini.
“Perang itu bukan semata ideologi yang disandarkan pada pengalaman masa lalu. Sejarah bisa menjadi latar, tetapi yang paling menentukan adalah kepentingan hari ini,” tegasnya mengutip pemikiran Bertrand Russell.
Menanggapi situasi global yang kian memanas, Arif menekankan pentingnya posisi Indonesia dalam kancah internasional. Ia menilai Indonesia harus tetap memegang teguh prinsip kedaulatan dan kewibawaan dalam merespons konflik antarnegara. “Indonesia punya prinsip dan kewibawaan. Itu yang penting dalam melihat konflik global,” pungkasnya. (dan/kun)






