Surabaya (beritajatim.com)- Perayaan Tahun Baru Imlek, hampir selalu identik dengan nuansa merah yang
mendominasi.
Mulai dari lampion yang menghiasi sudut-sudut kota hingga busana
yang dikenakan saat perayaan, warna ini tampak begitu menonjol.
Penggunaan merah (hongse) bukan sekadar unsur dekoratif, melainkan tradisi turun-temurun yang berakar pada kisah mitologi, perlambang perlindungan, serta symbol kesejahteraan dalam budaya Tionghoa.
Legenda Monster Nian: Asal Tradisi Warna Merah
Awal mula kuatnya simbol merah dalam tradisi Tionghoa dipercaya berasal dari
legenda makhluk mitologi bernama Nian.
Dalam cerita rakyat, Nian digambarkan
sebagai monster buas yang muncul setiap pergantian tahun untuk menyerang warga
desa dan memangsa ternak. Masyarakat kemudian menemukan bahwa makhluk
tersebut memiliki tiga hal yang ditakutinya, yakni suara yang keras, cahaya yang terang, dan warna merah.
Sejak penemuan itu, warga mulai menghias pintu rumah dengan kertas merah, menyalakan petasan, serta mengenakan pakaian merah sebagai upaya perlindungan.
Kepercayaan ini lambat laun berkembang dan menjadi bagian tak terpisahkan dari tradisi Tahun Baru Imlek yang dirayakan hingga kini.
Melindungi dari Gangguan Sui Lewat Angpau Merah
Selain kisah Nian, warna merah juga dikaitkan dengan perlindungan dari makhluk gaib lain bernama Sui. Dalam cerita yang beredar, Sui dipercaya suka mengganggu anak-anak pada malam Tahun Baru dengan menyentuh kepala mereka saat tidur yang konon dapat menyebabkan sakit.
Untuk mencegah hal tersebut, para orang tua membungkus koin dengan kertas merah lalu meletakkannya di bawah bantal anak- anak mereka.
Kilau koin yang terbungkus merah diyakini mampu mengusir Sui.
Tradisi ini kemudian berkembang menjadi kebiasaan memberi Hongbao atau
angpau merah, yang hingga sekarang dimaknai sebagai simbol doa, perlindungan, dan harapan akan kesehatan bagi generasi muda.
Makna Filosofis: Energi dan Keberuntungan
Dalam pandangan filosofi Tionghoa, warna merah melambangkan unsur api yang
berkaitan dengan semangat hidup, kekuatan, cahaya matahari, dan kehangatan.
Warna ini dipercaya membawa keberuntungan sekaligus mampu menangkal energi negatif. Dari sisi bahasa, pelafalan kata “merah” (hóng) dalam Mandarin terdengar mirip dengan kata yang bermakna “kemakmuran”. Kesamaan bunyi tersebut semakin menguatkan posisi merah sebagai simbol keberhasilan dan kelimpahan.
Penggunaan warna merah dalam Imlek bukan hanya untuk memperindah
suasana, tetapi juga sebagai representasi harapan akan rezeki dan kehidupan yang lebih baik di tahun mendatang.
Wujud Warna Merah dalam Perayaan Imlek
Dominasi merah terlihat jelas dalam berbagai unsur perayaan, di antaranya:
Chunlian (Puisi Berpasangan): Lembaran kertas merah bertuliskan doa dan
harapan baik yang ditempel di pintu rumah.
Busana Baru: Mengenakan pakaian merah saat Imlek melambangkan awal
baru serta niat mengundang keberuntungan.
Hiasan Rumah: Lampion merah, guntingan kertas artistik (paper-cuts), serta
simpul khas Tionghoa (Chinese knots) menjadi dekorasi yang memperkuat
atmosfer perayaan.
Petasan: Biasanya dibalut kertas merah dan setelah dinyalakan
meninggalkan serpihan merah sebagai simbol kemeriahan dan penolak bala.
Secara umum, warna merah jadi simbol penting yang menyatukan masyarakat
Tionghoa dalam suasana penuh harapan. Warna ini bukan cuma hiasan, tapi juga
mengingatkan pada tradisi leluhur, kebersamaan keluarga, dan doa bersama agar tahun yang baru membawa keberuntungan serta kehidupan yang lebih baik. [Meychel Salsabyla]






