Lamongan (beritajatim.com) – Dalam suatu kehidupan, kerap seseorang memandang indah atas apa yang tak dimilikinya, sehingga kurang bahagia dan tak puas dengan apa yang sudah dimilikinya.
Jika orang yang hidup di gunung rindu suasana pantai, jika saat musim hujan merindukan panas, maka demikian juga sebaliknya. Begitupun orang yang bepergian merindukan rumah dan orang yang di rumah ingin bepergian.
Sedangkan, seorang filsuf dan pemikir Islam yang hidup sekitar abad 7, Raghib Al-Isfahani mengatakan, bahwa syukur berarti gambaran dalam benak tentang nikmat dan menampakkannya ke permukaan.
Munculnya rasa syukur karena mengerti akan adanya nikmat yang telah didapatkan, dan mengetahui bahwa semua anugerah dalam kehidupan manusia adalah nikmat.
Hidup adalah anugerah bagi orang yang ikhlas dan kebahagiaan bagi yang bersyukur. Orang yang ikhlas itu bisa merasakan pemberian Allah, sehingga syukur dan berterima kasih kepada Allah semata-mata untuk menghadirkan kebahagiaan.
Oksigen yang dihirup setiap saat secara gratis, kesehatan, akal, kemampuan, pendengaran, penglihatan, berbicara, aliran darah yang mengalir di tubuh, dan keluarga adalah nikmat dari Allah Swt.
Rasa syukur terhadap karunia-Nya ini sudah semestinya kita pupuk dan pelihara. Jika tak bersyukur terhadap semua karunia-Nya, maka kita tergolong orang yang ingkar (kufur) pada Allah Yang Maha Penyayang sebagai pemberi nikmat.
Di bulan Ramadan ini, umat muslim disyariatkan puasa. Salah satu hikmah disyariatkannya puasa ini adalah menajamkan pengetahuan terhadap nikmat Allah yang seringkali dilupakan meski selalu lekat dalam diri.
Saat berpuasa, seseorang mampu merasakan hilangnya nikmat makan, minum dan syahwat dalam waktu tertentu. Melalui puasa, orang dapat merasakan penderitaan fakir dan miskin yang kekurangan. Dalam kondisi itu pula, ketajaman atas nikmat yang diberikan Allah akan lebih terasa.
Profesor Emmons menuangkan hasil temuan ilmiahnya tentang syukur dalam bukunya “Thanks! How the New Science of Gratitude Can Make You Happier (Terima kasih! Bagaimana Ilmu Baru tentang Bersyukur Dapat Menjadikanmu Lebih Bahagia, 2007)”.
Dalam buku itu, Emmons menulis, senantiasa bersyukur atas kebaikan yang diterima dapat berefek baik pada kehidupan. Seperti orang menjadi lebih teratur berolahraga, lebih sedikit mengeluhkan gejala penyakit, dan merasa secara keseluruhan hidupnya lebih baik.
Menurut Emmons, orang yang bersyukur lebih tampak keberhasilannya — dalam mewujudkan cita-cita, dibanding orang-orang yang bersikap sebaliknya. Orang yang bersyukur lebih cenderung bisa maju dalam pencapaian cita-citanya, baik prestasi akademis, karir, hubungan antar-sesama, dan kondisi kesehatannya.
Selain itu, menurut Emmons, mereka yang bersyukur punya sifat materialistis yang rendah, tak menaruh perhatian lebih pada hal-hal yang bersifat materi, cenderung tak menilai keberhasilan atau keberuntungan seseorang dari jumlah harta benda yang mereka kumpulkan.
Senada dengan temuan Emmons, Dua Faculty Members dari Harvard Kennedy of School, AS menyampaikan, Ramadan dapat meningkatkan kebahagiaan orang yang menjalani ibadah puasa. Peningkatan kebahagiaan itu karena pengurangan fokus kepada hal materil dan keuangan.
[berita-terkait number=”4″ tag=”ramadan”]
Semakin lama waktu puasa kita di bulan Ramadan, hal itu membuat orang menjadi lebih rendah hati dan bahagia. Orang seolah miskin tetapi tetap bersyukur, tanpa materil tapi tetap bahagia.
Temuan ilmiah di atas adalah studi nyata tentang kebenaran agama Islam, bahwa manusia harus senantiasa bersyukur agar nikmatnya ditambah sehingga selalu bahagia dalam hidupnya.
Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti adzab-Ku sangat berat. (QS. Ibrahim, 14:7). [fiq/but]






