Surabaya (beritajatim.com) – Deretan baju bekas bergantungan di stand hanger di jalan Gembong Kapasan, Surabaya. Tak jauh, ada topi, jaket, celana hingga jas.
Si empunya lapak tengah sibuk melayani pembeli yang terlihat mencari celana, di lapaknya sendiri memang khusus berjualan celana sisa ekspor. Salah satunya Akhmad (57) warga asli Gembong Kapasan ini mengaku berjualan sudah 20 tahun. Dia spesialis berjualan celana. Mulai celana jeans, kain, hingga celana Couldoure. Dia mematok harga mulai Rp 40 ribu – 100 ribu.
[berita-terkait number=”5″ tag=”pakaian”]
“Harga cukup bervariasi, tergantung kondisi celana. Masih bagus atau tidak? Bermerk atau tidak?,” kata salah satu penjual pakaian bekas impor di Gembong Kapasan, Akhmad, Minggu (10/4/2022).
Akhmad menyebut selama bulan Ramadan juga mengalami peningkatan omzet, pembeli berbondong-bondong ngabuburit sembari ngawul (berburu pakaian eks impor) di Gembong, Kapasan. “Rame mas, apalagi jelang buka. Omset juga naik, mungkin buat lebaran kali ya. Tetap murah dan ganteng,” katanya sembari tertawa.
Di Gembong Kapasan pun memiliki jualan yang beragam, tak hanya celana seperti dagangan Akhmad. Banyak kemeja, kaos, jaket, topi hingga dasi. Akhmad bercerita beberapa kali ada orang yang menanyakan dasi. Padahal, dasi hanya untuk mengikat karung bal. Tetapi, jika beruntung bisa mendapatkan dasi bermerk dan berkualitas. “Padahal cuman buat ngikat karung bal, tapi kalau lagi bejo (beruntung) ya dapet bagus banget,” ceritanya.
Sementara itu, Adi Nugroho (33) warga Puri Jaya, Sidoarjo mengatakan, dia mengaku hobi berburu barang eks impor ini. Adi bahkan pernah beruntung mendapatkan brand ternama yang ternyata sangat langka dan laku dengan harga sangat tinggi di marketplace. “Pernah, saya dapet jersey AC Milan yang masih logo Adidas ganja. Lah kok ditawar 3 juta ya saya lepas,” ceritanya dengan senyum sumringah.
Adi pun memilih membeli baju sehari-harinya di Gembong Kapasan. Tak hanya karena murah, tetapi memang banyak motif yang sangat keren tidak kalah dengan membeli baru di mall. “Murah di sini, banyak yang bagus corak kemejanya. Celananya juga bagus-bagus. Banyak merek terkenal juga. Lebih hemat jauh daripada beli baru di mal,” kata Adi.
Menurutnya, ketika berburu awul pun tidak selamanya beruntung. Terkadang harus pulang dengan tangan hampa karena tidak ada yang cocok. Dan memang harus bersabar. Dia juga memberikan tips mencuci barang hasil ngawul sebelum dipakai.
Seperti harus direndam di air hangat selama 30 menit, agar bisa membunuh kuman. “Direndam dulu, biar kumannya mati. Tapi saya pernah apes, diredam air panas kok luntur semua,” ceritanya sambil tertawa terbahak-bahak. [asg/suf]







