Mojokerto (beritajatim.com) – Tribuana Tunggadewi menjadi raja ketiga Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1328–1351 mesehi. Ditemani Gajah Mada, Tribuana Tunggadewi menaklukkan daerah yang memiliki potensi ekonomi dan perdagangan dan mampu membawa kesejahteraan bagi Majapahit.
Perempuan cantik itu dilahirkan dari rahim istri Raden Wijaya yang bernama Gayatri Rajapatni. Tribuana adalah cucu dari Kertanegara raja terakhir Kerajaan Singasari. Tribuana memiliki nama kecil Dyah Gitarja. Dalam prasasti Geneng II menyebutkan nama kecil sang rani adalah Dyah Tya.
Pada Kitab Pararaton, Tribuana disebut Bre Kahuripan. Itu dikarenakan sebelum menjadi Rani, Tribuana berkuasa atas wilayah kahuripan yang merupakan daerah bawahan Majapahit. Menjadi raja, Sang Rani memahami kerajaan banyak dirong-rong pemberontakan.
Masa Raja Jayanegara, raja kedua Majapahit, beberapa kali Majapahit diterpa pemberontakan oleh pembesar kerajaan. Tiga tahun setelah diangkat menjadi raja, Sang Sari menyerang Keta dan Sadeng. Dua daerah bawahan Majapahit yang kerap kali mengobarkan api pemberontakan.
Dua wilayah di sisi timur Jawa tersebut memiliki posisi strategis lantaran berupa daerah pesisir dengan pelabuhan penting. Sang Rani disebutkan turun langsung pada medan laga. Memimpin penggempuran didampingi Gajah Mada.
Akhirnya dua daerah itu berhasil ditaklukkan. Kisah penaklukan itu berbuah pengangkatan Gajah Mada menjadi Mahapatih Majapahit. Dalam Kitab Pararaton, Gajah Mada disebutkan mengucapkan sumpah palapa ketika dilantik menjadi mahapatih.
Pengangkatan Gajah Mada menjadi mahapatih tak lepas dari saran Gayatri. Gayatri merupakan dewan penasehat raja. Yang mana mengetahui peran Gajah Mada dalam masa lalu, termasuk ketika mampu menyelamatkan Raja Jayanegara saat keraton digempur pemberontak Ra Kuti.
Kiprah Raja Tribuana Tunggadewi amat besar dalam perluasan wilayah Majapahit. Seiring pula dengan sumpah palapa yang diucapkan Gajah Mada, Sang Rani mendorong perluasan wilayah ke Bali, Malaka, Tanjungpura, Dompu, dan daerah lainnya hingga Papua.
Baca Juga: Tribhuana Tunggadewi, Raja Majapahit Berparas Cantik
Pola penaklukkan demikian tak lepas dari saran Gayatri. Ketika sang ayah menjadi Raja Singasari, Kertanegara pernah melakukan hal serupa dengan konsep penyatuan Dipantara. Sang Rani melalui Gajah Mada kembali menaklukkan daerah yang pernah dikuasai oleh Singasari.
Penaklukkan daerah dengan pimpinan raja yang turun langsung ke medan laga membawa spirit besar terhadap pasukan. Dalam kepempinannya, Sang Rani ditemani Gajah Mada mampu membawa kemenangan pada ekspansi wilayah kerajaan.
Ia membangun angkatan bersenjata yang mumpuni terutama angkatan laut lengkap dengan kapal-kapal perang besar. Alhasil, penaklukkan daerah yang memiliki potensi ekonomi dan perdagangan. Ia mampu membawa kesejahteraan bagi Majapahit.
Kian tahun Majapahit kian membesar. Seiring meluasnya wilayah kekuasaan, kian banyak pula upeti yang dikirim ke Majapahit. Kerajaan menjadi makmur.
Tribuana Tunggadewi akhirnya tutup usia pada 1371 masehi. Tempat pendarmaan Tribuana Tunggadewi dipercaya berada di Desa Klinterejo, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto. [tin/ted]






