Mojokerto (beritajatim.com) – Umat Kristen pada umumnya merayakan Natal setiap 25 Desember, namun berbeda dengan umat Kristen Ortodoks. Mereka merayakan malam Natal dengan sembahyang setiap tanggal 6 Januari malam dan puncaknya setiap 7 Januari.
Sekalipun eksistensi Kristen Ortodoks diterima dan diakui oleh pemerintah Indonesia, namun nyatanya jumlah umat Kristen Ortodoks sangatlah sedikit. Di Indonesia sendiri jumlahnya hanya sekitar 4.000 orang, sementara di Kapel Demetrios Mojokerto sendiri hanya sekitar 30 orang.
Seperti yang terlihat dalam dalam perayaan Natal yang dilakukan penganut ortodoks Mojokerto. Mereka menjalankan misa di Kapel Demitrios yang beralamat di Jalan Jayawardana, Gatol Gang V, Desa Banjaragung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto pada, Sabtu (6/1/2024) kemarin.
Perayaannya pun cukup berbeda dengan Natal pada umumnya. Tak ada keramaian, tak ada pesta. Yang ada adalah kesunyian dan ritual berdoa dengan khusyuk. Ibadah natal di Kapel Demitrios berlangsung dengan penuh khidmat. Proses Liturgi (ritual) dipimpin oleh Romo Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono.
Dimulai dari Kyros atau pembukaan gerbang kudus dan dilanjutkan mempersiapkan sakramen perjamuan kudus. Setelah itu, Liturgi dibuka dengan mengangkat Injil dan pembacaan Litani Panjang, dilanjutkan dengan arak-arakan Injil dan pembacaan Epistel dan Injil. Kemudian Romo akan melakukan Homili atau pesan tersirat dari bacaan injil.
Imam Kapel Demetrios, Mojokerto, Romo Yohanes Bambang Cahyo Wicaksono mengatakan, Natal umat Kristen Ortodoks menggunakan sistem penanggalan yang berbeda. Jika kebanyakan umat Nasrani menggunakan kalender Gregorian, umat Kristen Ortodoks mendasarkan perhitungan hari pada sistem penanggalan kalender Julian.
“Kelahiran kristus itu memang 25 Desember. Lah karena ada geraja menggunakan kalender lama, ada perbedaan antara kalender Julius dan Gregorius. Ada perbedaan 13 hari. Kalau gregorius tanggal 25 Desember, Julius 7 Januari. Di dalam Natal bukan hura-hura tapi memang isinya mengandung sarat teologis sekali,” ungkapnya.
Sehingga dengan demikian, orang mengerti bahwa Natal menuju pada perdamaian, membawa suatu pesatuan antara manusia dan alam. Natal tidak bisa dilihat hanya sekadar perayaan. Sebab, perayaan Natal membawa pesan dan kesan tersendiri. Yakni pesan kedamaian dan kesan keharmonisan.
“Karena kedatangan sang sabda menjadi manusia tak lain dan tak bukan untuk mengembalikan jati diri manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang mempunyai sifat hitrogen dan bhineka. Perbedaan bukanlah satu hal yang untuk saling diperbenturkan satu sama lain. Namun, justru bagaimana bisa saling membangun,” ujarnya.
Romo Yohanes menyerukan perdamaian di antara umat manusia. Menurut dia, sudah seharusnya manusia hidup harmonis dan berdampingan satu sama lain. Dengan begitu, mereka bisa dapat saling bermanfaat. Sebaliknya, kata dia, perbedaan jangan sampai membuat umat manusia terpecah.
Meski berlabel minoritas, mereka tetap bisa hidup berdampingan dan menunjukkan kekeluargaan. Sehingga dalam peringatan Natal tersebut, Kapel Demetrios, Mojokerto juga mengundang Persaudaraan Cinta Tanah Air Indonesia (PCTAI). Hadir langsung Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PCTAI Kota Mojokerto Wisnu Wijaya bersama Dewan Pendiri PCTAI Wisnu.
“PCTAI ini anggotanya lintas agama, lintas keyakinan, lintas budaya, lintas sektoral tapi tujuannya bukan agama. Tapi membawa misi kebangsaan untuk mempersatukan anak bangsa yang ada, menjaga keutuhan NKRI. Visi dan misi yang lebih luas lagi yakni menjadikan Indonesia perdamaian nusantara dan menjadi imam perdamaian dunia,” tambahnya. [tin/suf]







