Surabaya (beritajatim.com) – Riset tentu jadi hal lumrah bagi mahasiswa. Kegiatan ini menempati proporsi cukup besar dalam keseluruhan aktivitas perkuliahan.
Banyak inovasi yang mampu dilahirkan para mahasiswa melalui beragam riset yang mereka lakukan. Ide-ide segar bermunculan. Beragam terobosan pun dihasilkan untuk mengatasi problematika di berbagai bidang kehidupan.
Namun demikian, ada semacam kutukan yang dihadapi para mahasiswa dalam menjalankan riset. Bahkan, kutukan itu menjadi momok dalam dunia riset mahasiswa, dengan tingkat kengerian yang mungkin jauh lebih berat ketimbang sebatas dosen penguji galak pelit nilai. Kutukan itu adalah predikat “jago kandang”.
Fenomena ini sejatinya hal lumrah. Tim riset dielu-elukan di kampus sendiri, menang lomba tingkat lokal, lalu mendadak senyap saat dipaksa beradu di level internasional.
Tim Antasena dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tampaknya sudah khatam dengan kecemasan itu. Namun, mereka memilih untuk tidak takluk dan mencoba mengalahkan kutukan itu dengan aksi nyata.
Sejak 2010, Tim Antasena ITS sudah bergelut dengan hidrogen, teknologi yang katanya menjadi masa depan energi bersih. Inovasi yang manfaatnya kelak akan menyentuh kepentingan publik luas.
General Manager Antasena, Fauzil Adhim, sadar betul bahwa prestasi adalah candu yang melenakan. Memori kala 2018 saat menjadi runner-up di London, Inggris, memang manis. Tapi itu cerita lama.
Tahun ini, Antasena ITS mulai mengguratkan mimpi emas yang lebih besar. Mereka kembali mengamankan tiket menuju World Championship Shell Eco-Marathon (SEM) 2027 di Qatar. Namun, jangan bayangkan ini hanya soal injak gas dan melihat siapa yang paling cepat sampai garis finis.
Untuk mimpi ini, Antasena telah menyiapkan amunisi berupa prototipe hemat energi generasi ketiga. Di balik mobil prototipe seri ketiga yang mereka banggakan, ada hitung-hitungan teknis yang mengernyitkan dahi. Pengurangan bobot kendaraan, sistem telemetri pintar, hingga urusan sepele seperti humidifier–alat pengatur kelembapan untuk memaksimalkan fuel cell–dikerjakan dengan sangat detail. Tak boleh ada satu celah pun yang terlewat.
Masalahnya bukan cuma di desain. “Untuk kesulitan pada keteknisan adalah di bagian perancangan dan pengolahan data aktual pada mobil,” ungkap Fauzil, Selasa (9/2/2026).
Baginya, simulasi di laboratorium Surabaya sering kali tidak menemukan relevansi saat bertemu aspal Qatar yang panasnya sangat menyengat. Serasa di gurun pasir. Ada jarak lebar antara teori dan realitas lintasan yang harus dijembatani dengan data aktual, bukan hanya intuisi.
Bahkan, tekanan mental di lapangan sering kali melampaui kerumitan teknis. Fauzil mengisahkan drama menegangkan saat sesi technical inspection.
“Adanya perbedaan pendapat dari pihak panitia technical director SEM mengharuskan kami mengubah sistem transmisi dalam waktu yang singkat, dikarenakan kita juga akan mengambil waktu race,” kenang Fauzil.
Situasi itu hampir membuat mental tim runtuh. “Itu menjadi struggle pada tim juga karena penggantian waktu yang cepat tidak baik karena bisa menimbulkan masalah lain, tetapi kami akhirnya dapat menegosiasi pada hari berikutnya untuk kita bisa menggunakan main transmission kita atau transmisi utama untuk race,” tambahnya.
Maka, menyiapkan mobil ini bukan perkara semalam dua malam. Butuh waktu 10 bulan hanya untuk memastikan satu unit kendaraan siap bertanding.
Antara Investasi Reputasi dan Risiko Proyek Musiman
Di level institusi, ITS memang tampak habis-habisan. Angka Rp83 miliar yang digelontorkan melalui Strategic Research Grant (SRG) 2026 bukanlah jumlah yang kecil. Uang sebanyak itu ditanam bukan untuk membeli piala, melainkan sebagai bahan bakar utama komitmen ITS menuju Top 300 universitas terbaik dunia.
Langkah konkret ini adalah sikap tegas ITS terhadap kebiasaan riset yang hanya mengejar laporan formalitas belaka.
”SRG 2026 diarahkan menghasilkan luaran riset yang terukur dan berdampak, tidak tersebar seperti hibah konvensional yang berbasis kompetisi,” tegas Rektor ITS, Bambang Pramujati.
Sebagai bukti keseriusan ITS memacu mesin riset, sebanyak 1.186 proposal penelitian wajib selesai ditinjau hingga akhir Januari 2026 lalu sebagai syarat mutlak pencairan dana. Ini memastikan dana miliaran tersebut tidak menguap sia-sia, melainkan melahirkan penelitian berkualitas yang berlevel dunia.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Fadlilatul Taufany, mencoba mendobrak paradigma lama. Baginya, lomba internasional tidak boleh dianggap sebagai beban biaya operasional, tapi investasi untuk reputasi global.
Mahasiswa tak lagi boleh jadi ‘peserta lomba’ yang datang, foto-foto, lalu pulang bawa sertifikat. Mereka dipaksa menjadi peneliti muda yang risetnya harus terindeks Scopus dan memiliki hak kekayaan intelektual–dua variabel penting yang menjadi mesin pendongkrak peringkat kampus di kancah internasional.
Namun, di sini letak kritiknya: mampukah sistem ini bertahan melampaui masa jabatan rektor atau tren kompetisi?
Taufany mengakui tantangan terberat bukan pada mencari mahasiswa pintar. Kalau bicara soal otak encer, Indonesia sudah kelebihan stok. Anak-anak muda Indonesia terkenal memiliki daya kreatif yang hebat.
Sayangnya, masalahnya bukan ada stok mahasiswa pintar, melainkan sinkronisasi sistem dan regenerasi. Sering kali, tim riset kampus terjebak pada pola proyek musiman. Ramai saat menjelang lomba, lalu berubah menjadi kuburan riset yang sunyi setelah piala dipajang di lemari kaca gedung rektorat.
“Tantangan utama bukan pada talenta, melainkan pada sinkronisasi dan keberlanjutan sistem,” ungkapnya.
Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati, menekankan bahwa SRG 2026 didesain berbasis kinerja keilmuan, bukan sekadar kompetisi proposal yang sering kali berakhir sebagai formalitas administratif.
Ini adalah langkah berani sekaligus upaya nyata ITS untuk memastikan riset dosen maupun mahasiswa bukan hanya sekadar pajangan, tapi kontribusi ilmiah yang diakui dunia.
Jika hasil riset Antasena dan tim lainnya gagal berdampak di level industri atau kebijakan energi nasional, maka dana miliaran itu hanya akan menjadi monumen ambisi yang mahal. Sebaliknya, jika berhasil, inilah tangga bagi ITS untuk mengukuhkan posisi di jajaran elit kampus dunia.
Antasena kini berada di persimpangan jalan. Mereka adalah ‘etalase hidup’ dari upaya besar ITS menembus peringkat 300 besar dunia. Di satu sisi, mereka membawa harapan tentang energi terbarukan. Di sisi lain, mereka memikul beban untuk membuktikan bahwa riset mahasiswa bukan hanya sekadar hobi mahal yang didanai negara.
Pada akhirnya, di lintasan Qatar nanti, yang diuji bukan hanya seberapa irit bahan bakar hidrogen yang mereka kembangkan. Tapi juga seberapa kuat sistem pendukung di belakangnya.
Sebab, prestasi sejati tidak lahir dari semangat yang meluap-luap di awal, melainkan dari sistem yang tidak putus napas demi martabat kampus di level dunia.
Antasena punya waktu hingga 2027 untuk membuktikan bahwa mereka bukan sekadar jago kandang yang sedang beruntung, melainkan bagian dari mesin riset global yang memang sudah saatnya naik kelas. [ipl/beq]






