Madiun (beritajatim.com) – Polemik kualitas menu Program Makan Bergizi (MBG) di Kabupaten Madiun kembali mencuat. Setelah sebelumnya telur rebus ditemukan dalam kondisi tak layak konsumsi, kini jambu biji busuk kembali ditemukan dalam paket MBG dari SPPG Tempursari, Kecamatan Wungu.
Temuan itu terjadi saat distribusi menu untuk siswa di SMPN 1 Nglames, Kamis (26/2/2026). Jambu biji yang dibagikan bersama kacang koro, roti kopi, roti abon, susu Nobo, dan keju Prochiz Slice tersebut rencananya dikonsumsi untuk dua hari, yakni Kamis dan Sabtu mendatang.
Salah satu siswa mengaku hendak menyimpan jambu tersebut untuk menu berbuka puasa. Namun saat akan dimasukkan ke dalam kulkas, buah itu sudah dalam kondisi lembek dan berbau. Penasaran, akhirnya siswa tersebut membuka dan ternyata benar, kondisinya sangat jauh dari kata segar. Karena tidak mungkin untuk dikonsumsi, jambu tersebut akhirnya dibuang. “Tadi mau tak simpan buat buka puasa, ternyata sudah busuk,” ujar siswa yang meminta namanya tidak disebutkan.
Dari tampilan luarnya, jambu tersebut sebenarnya sudah terlihat tidak segar. Kondisi ini pun memunculkan pertanyaan, bagaimana proses sortir dan pengawasan dilakukan hingga buah tak layak konsumsi bisa lolos distribusi.
Temuan berulang ini semakin menambah sorotan terhadap pelaksanaan MBG yang digadang-gadang menjadi program strategis nasional untuk mencetak generasi sehat menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala SPPG Tempursari Wungu, Cahyo, saat dikonfirmasi berdalih pihaknya telah melakukan nota kesepahaman (MoU) dengan sekolah terkait mekanisme penggantian makanan yang tidak layak.
“Dari awal saya sudah MoU dengan sekolah, Pak. Kalau ada makanan yang kurang layak akan kami ganti,” ujarnya melalui pesan WhatsApp.
Namun, saat ditanya langkah evaluasi dan antisipasi agar kejadian serupa tidak terulang, ia enggan memberikan penjelasan lebih lanjut.
Tak hanya di Wungu, sorotan terhadap menu MBG juga muncul di wilayah lain. Di TK Bongsopotro, Kecamatan Saradan, wali murid dibuat geleng-geleng kepala dengan menu yang diterima anak-anak mereka.
Paket MBG dari SPPG Sidorejo, Kecamatan Saradan, untuk diterimakan di sekolah tersebut berisi susu, roti, dan kacang polong. Namun yang menjadi perhatian adalah buah yang diberikan berupa nanas utuh dan bahkan belum dikupas.
Darwanto, salah satu wali murid, mempertanyakan kebijakan tersebut. “Di tempat lain mungkin dapat jeruk, apel, atau pir yang sudah siap dimakan. Ini anak-anak TK malah dikasih nanas utuh, belum dikupas. Kenapa tidak dikupas dulu?” ujarnya.
Menurutnya, anak usia taman kanak-kanak tentu belum mampu mengupas sendiri buah nanas. Selain berisiko melukai tangan, kondisi itu juga dinilai kurang praktis dan tidak sesuai dengan karakteristik penerima manfaat.
Rangkaian temuan ini kembali memunculkan tanda tanya besar terkait standar mutu, pengawasan, hingga keseriusan pelaksana dalam memastikan makanan yang dibagikan benar-benar aman dan layak konsumsi. Publik pun menanti langkah tegas evaluasi agar program yang menyasar anak-anak tersebut tidak terus menuai polemik. (rbr/kun)






