Kediri (beritajatim.com) – Peringatan Hari Buruh Internasional (Mayday) 2025 di Kota Kediri berlangsung dalam nuansa sederhana. Sejumlah buruh melaksanakan kegiatan secara lesehan sebagai bentuk solidaritas dan refleksi atas situasi ekonomi yang masih belum pulih.
Ketua DPC Kesatuan Buruh Kebangsaan Indonesia (KBKI) Kota Kediri, Tukiran, mengatakan bahwa kondisi saat ini memaksa buruh untuk tetap bersabar dan berharap. “Tahun 2025, harapannya ekonomi membaik. Kalau seperti ini terus kasihan,” ujarnya kepada beritajatim.com, pada Sabtu (3/5/2025).
Ia mencontohkan pelaksanaan Mayday di perusahaan besar seperti PT Gudang Garam Tbk yang juga digelar secara sederhana. “Contohnya mayday, Gudang Garam Kediri juga melaksanakan peringatan mayday ya seperti ini sederhana, lesehan,” imbuhnya.
KBKI sendiri merupakan serikat buruh yang anggotanya mayoritas berasal dari pekerja rendahan di pabrik rokok tersebut, dengan jumlah sekitar 1.200 orang. Meski demikian, Tukiran menyebut serikat mereka tidak memiliki POK (Perwakilan Organisasi Karyawan) di perusahaan itu.
“Kondisi buruh secara keseluruhan kalau Kediri itu bagus. Kalau bicara secara umum, stakeholder itu pemerintah, walikota yang memiliki kewenangan secara umum, harapan kita satu dan itu sudah dilakukan, mengendalikan inflasi. Percuma gaji dinaikkan kalau inflasinya tinggi, apa-apa mahal. Harapannya itu. Bisa mengendalikan inflasi di Kediri,” jelasnya.
Secara nasional maupun global, kondisi ekonomi menurutnya masih menghadapi tantangan serius. “Harapannya secara global ekonomi sedang suram, termasuk PT Gudang Garam keuntungannya diperkirakan akan turun saat Juli nanti,” ungkap Tukiran.
Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Kediri mencatat bahwa pada April 2025, Kota Kediri mengalami inflasi year on year (yoy) sebesar 1,23 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 107,54. Sementara itu, tingkat inflasi month to month (mtm) dan year to date (ytd) masing-masing sebesar 1,33 persen dan 1,20 persen.
Sebagai perbandingan, dari 11 kota IHK di Jawa Timur, Kabupaten Banyuwangi mencatat inflasi yoy tertinggi sebesar 2,38 persen, sedangkan Kabupaten Bojonegoro mengalami inflasi yoy terendah sebesar 0,85 persen. [nm/ian]






