Ponorogo (beritajatim.com) – Masuk musim kemarau, BPBD Ponorogo melakukan pemetaan terhadap daerah-daerah di bumi reog yang berpotensi mengalami kekeringan. Pemetaan ini dilakukan sebagai upaya antisipasi dan mitigasi bencana kekeringan di Kabupaten Ponorogo. Sebab, potensi kekeringan tahun ini, diprediksi akan lebih lama akibat bakal adanya fenomena El Nino.
“Kita lakukan pemetaan, mana saja lokasi di Kabupaten Ponorogo yang berpotensi mengalami kekeringan pada tahun ini,” kata Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Ponorogo Sapto Djatmiko, ditulis Senin (12/06/2023).
Dengan melakukan pemetaan itu, BPBP Ponorogo nantinya akan mudah untuk melakukan koordinasi, jika ditemukan daerah yang mengalami kekeringan. Pihak desa atau kelurahan di Kabupaten Ponorogo, bisa menginformasikan kepada BPBD jika sewaktu-waktu membutuhkan droping air bersih, akibat terdampak kekeringan itu.
“Pihak desa/kelurahan bisa menginformasikan bahwa wilayah mengalami kekeringan, dengan begitu petugas akan melakukan tindak lanjut dengan droping air bersih,” katanya.
Dari pemetaan yang dilakukan oleh BPBD Ponorogo, diketahui bahwa ada sedikitnya 41 dusun dari 27 desa di 10 kecamatan yang berpotensi mengalami kekeringan. Petugas pun memasukkan daerah-daerah itu, masuk dalam daftar rawan bencana kekeringan. Hal itu mengacu pada data pada tahun 2021 dan 2022. Desa di kecamatan tersebut, pada musim kemarau mengalami kekeringan, contohnya di Dusun Jenggring Desa Duri Kecamatan Slahung Ponorogo. Namun, hingga saat ini, belum ada daerah yang membutuhkan droping air bersih.
“Kecamatan Slahung menjadi daerah yang berpotensi besar mengalami kekeringan. Contohnya di Dusun Jenggring Desa Duri, dulu jadi langganan kekeringan,” pungkasnya. (end/kun)
BACA JUGA:






