Magetan (beritajatim.com) – Angka stunting versi bulan timbang tahun 2023 di Magetan masih di angka 9,6 persen. Hal itu diungkapkan Pj Bupati Magetan Hergunadi. Saat ini pihaknya maish gencar melakukan penanganan. Namun, masih ada beberapa kendala yang dihadapi para petugas di lapangan.
“Untuk yang stunting karena sakit sudah mendapatkan perawatan. Namun, untuk stunting bukan karena sakit, ini agak terkendala koordinasi dengan orang tua anak. Karena, ada orang tua yang merasa malu ketika anaknya dibilang stunting. Karenanya akan kaki sadarkan,” kata Hergunadi, Rabu (8/11/2023).
Dia mengatakan, masih perlu edukasi untuk perbaikan pola asuh. Sampai saat ini masih ada orang tua yang banyak memberikan makanan cepat saji yang banyak penyedap rasa dan bahan-bahan lain yang tidak bergizi. “Karena ketika anak ini terbiasa dengan makanan cepat saji yang rasanya ekstrim, terus memakan makanan bergizi yang rasanya biasa saja kadang kan gak mau,” lanjutnya.
Dia mengharap, seluruh elemen bisa mengubah kebiasaan dari orang tua. Agar usia emas anak-anak bisa maksimal dan terhindar dari stunting. “Ada kegiatan parenting, melibatkan seluruh organisiasi. Masih kami rintis kerjasama dengan perguruan tinggi. Anak-anak KKN bisa turut mendampingi dalam penanganan stunting,” lanjut mantan Sekda Magetan Hergunadi.
Pihaknya juga melibatkan puhak swasta untuk mengucurkan corporate social responsibility (CSR). Untuk edukasinya, sudah dilakukan sejak pranikah, saat hamil, hingga pasca kelahiran anak. “Untuk tahun ini kami mengharap di akhir 2023 bisa sampai 7 persen. Untuk versi bulan timbang,” pungkas Hergunadi. [fiq/kun]
BACA JUGA: Karhutla Gunung Lawu Magetan Padam, Kini Diusulkan Tahap Penulihan






