Ngawi (beritajatim.com) – Laksamana Pertama (Laksma) TNI Supardi yang kini menjabat Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Dan Lantamal) V Surabaya ternyata warga asli Ngawi, Jawa Timur. Pria 55 tahun itu lahir dan besar di Desa Mojomanis, Kecamatan Kwadungan, Kabupaten Ngawi.
Momen Idul Fitri 2023 kali ini, Supardi beserta sang istri, Prima Christiana (51), merayakannya di kampung halaman. Supardi bahkan menggelar tumpengan mengundang warga sekitar rumah di Mojomanis. Dia pun dapat sambutan yang hangat dari masyarakat.
“Syukurlah tahun ini bisa lebaran di rumah. Tahun-tahun sebelumnya, lebarannya di laut. Tapi sekarang, di sela tugas, bisa sempat lebaran di kampung halaman,” kata Supardi, Senin (24/4/2023).
Dia pun bertemu dengan rekan masa kecil hingga kerabat di Ngawi. Supardi banyak bercerita tentang masa kecil di wilayah Mojomanis.
Saat masih belia, Supardi tak menyangka jika bakal menjadi perwira Angkatan Laut dengan bintang di pundak. Lantaran, orang tuanya, Karto Diharjo dan Katinem, dulu adalah seorang petani biasa.
Ditambah lagi, dulu Desa Mojomanis bukanlah desa yang dekat dengan pusat Kota Ngawi. Letaknya berada di ujung tenggara Kabupaten Ngawi. Malah dekat dengan Kabupaten Madiun. Mayoritas penduduknya adalah petani dan peternak.
“Dulu tidak ada listrik. Daerah Kwadungan itu dulu paling akhir ada listrik. Perkembangan di desa jadi agak terlambat. Desa ini terisolir dulu, pinggiran. Tapi, disinilah saya lahir dan besar,” kenang Supardi.
Baca Juga:
Anggota Damkar Ngawi Menyelam untuk Cari Kakek Hanyut di Sungai
Saat kecil, Supardi kerap menggembala kerbau. Ada beberapa kerbau milik orang tua yang kerap dia gembalakan. SD dan SMP-nya di Ngawi, sedangkan SMA bersekolah di Madiun.
Setelah lulus SMA pada 1987, diamendaftar Calon Taruna Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Akabri). Banyak yang mendaftar namun akhirnya dia bisa masuk dan menjalani pendidikan selama tiga tahun di Lembah Tidar, Magelang, Jawa Tengah.
“Awal-awal dulu yang penting saya jadi tentara. Teman saya (satu geng) ada empat orang yang daftar ALL, se-Kabupaten Ngawi yang lolos hanya saya dan se-Karisidenan Madiun hanya empat orang,” ucap kata pria lulusan Akmil 1990 itu.
Kini sudah 33 tahun, bapak dua anak itu menjadi anggota TNI AL. Bahkan, kini jadi laksamana pertama. Pengalamannya menjadi TNI AL membuatnya merasakan kehidupan di laut menggunakan kapal.
Dia masih ingat pengalaman pertama saat menaiki Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewa Ruci. Dia sempat ditugaskan pula di pulau Miangas yang berbatasan langsung dengan Filipina. Tak hanya itu, dia juga berkesempatan bertugas di luar negeri.
“Semua kapal sudah dialami, sehingga cukup banyak pengalaman. Hingga mendapat penugasan di perbatasan Filipina,” tutur dia.
Baca Juga:
Main Tak Kunjung Pulang, Bocah di Ngawi Meninggal Tenggelam
Bukan menaklukkan gelombang atau badai di lautan, menurutnya, yang lebih menantang adalah komitmen kuat untuk menjaga keutuhan teritorial laut Indonesia.
“Tantangan alam lebih banyak, tantangan mengendalikan alutsista, melaksanakan tugas di tengah laut. Itu semua menghilangkan rasa ketakutan dan kita harus mampu menaklukan itu,” kata pria yang lahir 9 Agustus 1967 itu.
Hingga kini, sudah berderet tanda jasa yang tersemat. Totalnya, l 12 penghargaan dari negara, yang paling bergengsi yakni Bintang Yudha Dharma Nararya diberikan atas dharma bhakti yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh bangsa dan negara. Serta, Bintang Jalasena Nararya yang didapat atas jasanya dalam kemajuan dan pembangunan TNI AL.
Tak lupa, dia memberikan semangat pemuda asal desa yang berkeinginan menjadi abdi negara dan mengikuti jejaknya. Supardi berpesan untuk tidak mudah putus asa dan terus berjuang. [fiq/beq]






