Bojonegoro (beritajatim.com) – Desa Margomulyo, Kecamatan Balen, Kabupaten Bojonegoro, resmi ditetapkan sebagai Desa Inklusi pertama di wilayah setempat. Peresmian yang digelar di Gedung Koperasi Desa Merah Putih Desa Margomulyo tersebut menjadi puncak pendampingan Program Inklusi ‘Aisyiyah yang telah berjalan sejak 2023.
Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Bojonegoro, Masirin, menyebut penetapan Desa Margomulyo sebagai Desa Inklusi pertama merupakan langkah bersejarah. Menurutnya, hal tersebut sekaligus menjadi upaya mewujudkan lingkungan desa yang tidak diskriminatif, sebagaimana amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas.
“Tantangan setelah launching adalah keberlanjutan, bagaimana desa ini benar-benar memberi rasa aman dan nyaman bagi kelompok rentan,” ujarnya. Jumat (30/10/2026).
Sementara itu, Asisten Administrasi Umum Pemkab Bojonegoro, Machmuddin, dalam keynote speech menekankan pentingnya perubahan cara pandang masyarakat terhadap penyandang disabilitas. Mereka tidak seharusnya dipandang sebagai objek belas kasihan, melainkan warga yang memiliki hak dan kesempatan setara.
“Jangan pandang penyandang disabilitas sebagai objek yang dikasihani. Mereka adalah subjek, warga yang punya hak sama,” tegasnya.
Machmuddin juga mendorong masyarakat agar aktif melaporkan apabila menemukan warga yang mengalami putus sekolah, menjadi korban kekerasan, maupun penyandang disabilitas yang belum mendapatkan pelayanan.
Menurutnya, validitas data kelompok rentan menjadi salah satu faktor penting agar bantuan dan layanan dapat diberikan secara tepat sasaran. “Desa Inklusi bukan soal kebanggaan atau kemenangan. Idealnya, memang setiap desa harus inklusi,” tambahnya.
Wakil Ketua Pengurus Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Timur, Nelly Asnifati, menegaskan bahwa, program inklusi tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Selama tiga tahun pendampingan di Desa Margomulyo, sejumlah program telah dijalankan, di antaranya Balai Sakinah ‘Aisyiyah (BSA), Bina Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA), layanan kesehatan Si Jaka, hingga tes IVA.
“Tujuannya satu, agar semua warga tanpa terkecuali mendapat akses yang sama dalam mengakses layanan yang ada,” ungkapnya.
Sedangkan, Kepala Desa Margomulyo, Arif Rahman mengatakan, pendampingan tersebut telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya penyandang disabilitas. Salah satunya melalui kelompok usaha penjahit disabilitas yang kini dipercaya memproduksi seragam PAUD dan TK ‘Aisyiyah se-Kabupaten Bojonegoro.
Kesempatan tersebut diperoleh melalui kolaborasi dengan Pengurus Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Bojonegoro. Menurut Arif, keterlibatan kelompok disabilitas dalam kegiatan ekonomi menjadi bukti bahwa mereka memiliki kemampuan untuk berkembang dan berkontribusi bagi masyarakat.
Suasana haru mewarnai sesi testimoni. Yusuf dan Eni Masfiroh, anggota BSA dan BUEKA dari kelompok disabilitas, menceritakan perkembangan usaha yang mereka jalankan. Setelah mendapatkan pendampingan melalui program inklusi, usaha keduanya berkembang dan memiliki jangkauan pasar yang semakin luas. [fif/suf]






