Surabaya (beritajatim.com) – Setiap lagu pasti puca ceritanya sendiri. Tak jarang kita temui lagu-lagu yang digubah dan dibawakan untuk menyampaikan pesan tertentu atau sebagai kritik terhadap kondisi yang sedang terjadi. Hal ini juga berlaku pada lagu-lagu U2.
Group band asal Irlandia ini memang dikenal dengan lirik-liriknya yang kuat dan retoris. U2 lahir sejak 1976 dengan mula-mula membawa genre post-punk dan berkembang menjadi salah satu band Rock paling berpengaruh di dunia.
Berawal dari lagu ‘I Haven’t Found What I’m Looking For’ yang didorong secara spiritual. Hingga ‘If You Wear That Velvet Dress’ lagu yang mengandung unsur seksual membuat penonton mulai dibujuk dalam memeriksa keraguan agama mereka sehingga menyerah pada emosi mereka.
Salah satu lagu yang paling menonjol adalah “Sunday Bloody Sunday” sebagai lagu terbaik karya U2. Lagu dengan retorika yang berhasil karena kesederhanaan. Namun, tidak terlepas karya yang ditulis sebagian sebagai tanggapan mengenai peristiwa 30 Januari 1972 ketika Resimen Paratroop Angkatan Darat Inggris menewaskan 14 orang dan melukai 14 lainnya saat demonstrasi hak-hak sipil di Derry, Irlandia.
Hal ini membuat lagu “Sunday Bloody Sunday” langsung menarik perhatian pendengar. Sebuah lagu yang berbicara dengan unsur pertentangan bukan hanya pada Tentara Inggris, namun juga Tentara Republik Irlandia.
Maka dari itu, Bloody Sunday, menjadi sebutan pada satu tindakan dengan siklus kekerasan yang merenggut banyak nyawa yang tak berdosa. Bukan hanya itu, Tentara Republik Irlandia ikut berkontribusi pada pertumpahan darah. Awal dari lagu dimulai dari Larry Mullen, Jr. menabuh drumnya dalam ritme bela diri yang berkonotasi dengan visi tentara, tank, senjata.
Walaupun tidak orisinal, namun ini adalah penggunaan ironi musik yang berhasil karena menyelimuti lagu protes dalam suara-suara yang biasanya dikaitkan dengan protes orang-orang.
Kemudian hal ini membuat perhatian pendengar tertarik, The Edge dan Adam Clayton bergabung dengan gitar utama dan bass. Masuk ke riffnya sedekat mungkin dengan beton. Tentu saja, Ini menjadi sangat besar, bahkan hampir padat.
Memang benar adanya, U2 mengupayakan subjek dan tema dalam cakupan yang luas. Maka dari itu pesan ini membawa banyak makna sehingga mereka harus terhubung dengan setiap telinga, pikiran, dan hati.
Detak yang berdebar kencang dan deburan ombak berat membawa pendengar ke lokasi pembunuhan yang penuh dengan rasa kesedihan. Biolanya meluncur masuk dan keluar sehingga menambahkan sentuhan yang lebih lembut dan halus.
Ketika kita terperangkap dalam serangan musik, hal itu menjangkau pendengar sehingga memberi tahu dia bahwa pegangan lagu tidak akan mencekik, namun menjadi pegangan yang kokoh harus tetap dijaga. [prd/tur]






