Bojonegoro (beritajatim.com) – Jajaran Polres Bojonegoro membongkar makam Galang Regil Metrik Afandi (18) warga RT 009 RW 010 Dusun Dalemkidul Desa Ngumpakdalem Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro. Pembongkaran dilakukan Selasa (13/2/2024) malam.
Pembongkaran makam dilakukan untuk kepentingan penyidikan ulang atas kejadian berdarah di Jalan Nasional Bojonegoro-Nganjuk, turut Desa Mojoranu, Kecamatan Dander Kabupaten Bojonegoro yang terjadi pada Minggu (11/2/2024), pukul 01.30 WIB.
Kapolres Bojonegoro AKBP Mario Prahatinto mengatakan, penyidikan ulang dilakukan atas permintaan keluarga korban. Sebelumnya, hasil olah TKP polisi menyatakan korban diduga meninggal karena kecelakaan lalu lintas. Namun, pihak keluarga meyakini korban meninggal karena hal lain. “Sebelumnya korban sudah menjalani visum, tapi hanya visum luar dan menunjukkan ada luka di kepala,” ujarnya, Rabu (14/2/2024).
Sementara ibu korban, Eko Cahyo Puspaningrum meyakini bahwa anaknya meninggal bukan akibat kecelakaan, karena dari keterangan teman-teman anaknya atau saksi yang ada di lokasi kejadian, mereka mengaku sempat dikeroyok segerombolan orang tidak dikenal.
“Intinya saya dan keluarga menyakini anak saya (meninggal) tidak kecelakaan. Kalau kecelakaan saya tahu ada luka-luka lembab (babras), tapi ini lukanya khusus kepala saja. Saya berkeyakinan kalau anak saya kecelakaan, (lukanya) tidak seperti itu,” ujarnya.
Menurut Eko Cahyo, dari luka-luka yang diderita anaknya ada beberapa kejanggalan, sehingga dirinya meminta kepada pihak kepolisian agar mengusut tuntas apa penyebab kematian anaknya.
“Saya janggalnya itu waktu dimandikan, di dahinya itu ada dua luka agak dekok (dalam) seperti bekas sabetan dan di kepala bagian belakang itu ada seperti lubang dan darahnya tidak berhenti-berhenti,” jelasnya.
Eko Cahyo Puspaningrum menambahkan bahwa selain luka di kepala, ada luka memar di paha, yang kemungkinan akibat jatuh, tapi di kaki dan tangan bersih atau tidak ada luka sama sekali. “Kalau kecelakaan saya tahu ada luka-luka lembab (babras), tapi ini lukanya di kepala saja. Saya berkeyakinan kalau anak saya kecelakaan, (lukanya) tidak seperti itu,” tambahnya.
Masih menurut Eko Cahyo Puspaningrum bahwa tempat jatuhnya anaknya itu tidak ada benda tumpul karena jatuhnya di rumput atau tanah. Selain itu banyak darah berceceran di jalan. “Tempat jatuhnya Galang itu tidak ada benda tumpul atau apa pun, soalnya di rumput. Untuk darah yang berceceran (di jalan) itu kemungkinan posisi sudah luka, lalu jatuh di rumput. Kita tidak tahu,” kata Eko Cahyo Puspaningrum.
Lebih lanjut Eko Cahyo Puspaningrum memohon kepada aparat kepolisian agar mengusut kasus yang menimpa anaknya tersebut dengan tuntas. Dirinya juga berharap agar kasus serupa tidak terjadi lagi.
“Intinya saya memohon kepada Pak Kapolres Bojonegoro kalau mendengar saya, saya minta keadilan anak saya. Kalau Galang tidak ada (meninggal), saya sudah mengikhlaskan, saya minta keadilan anak saya, biar anak saya juga tenang,” ujarnya.
“Saya minta kasus ini diusut dengan tuntas, dan semoga tidak terjadi lagi peristiwa seperti yang menimpa anak saya,” pungkas Eko Cahyo Puspaningrum. [lus/kun]






