Jember (beritajatim.com) – Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Jember, Jawa Timur, menyebut politisi Gerindra Achmad Syahri Assidiqi tidak peka, karena bermain game daring sembari merokok dalam rapat dengar pendapat membahas stunting (tengkes), di gedung parlemen setempat, Senin (11/5/2026).
“Tindakan tersebut bukan sekadar persoalan etika individu ataupun kesalahan teknis dalam persidangan. Ini adalah potret krisis moral kekuasaan dan matinya sensitivitas sosial pejabat publik terhadap penderitaan rakyat,” kata Ketua PC PMII Jember M. Taufiqur Rahman, Jumat (15/5/2026).
Rahman mengingatkan, forum pembahasan stunting bukan ruang santai dan bukan panggung formalitas birokrasi. “Di balik isu stunting terdapat ancaman nyata terhadap masa depan generasi Jember, anak-anak yang kehilangan hak tumbuh kembang secara layak, dan keluarga miskin yang kesulitan mengakses layanan kesehatan,” katanya.
Dengan bermain game sambil merokok dalam forum tersebut, menurut PMII Jember, Syahri sebenarnya sedang mempertontonkan watak kekuasaan yang tidak lagi memiliki rasa malu terhadap rakyat sendiri. “Ini bukan hanya penghinaan terhadap forum resmi DPRD, tetapi penghinaan terhadap ibu-ibu yang setiap hari berjuang memenuhi gizi anaknya,” kata Rahman.
Tindakan itu, lanjut Rahman, juga merupakan penghinaan terhadap tenaga kesehatan yang bekerja dalam keterbatasan fasilitas, dan terhadap masyarakat kecil yang terus dipaksa bertahan dalam sistem pelayanan publik yang belum sepenuhnya berpihak.
“Kami menilai, sikap tidak serius dalam pembahasan stunting mencerminkan adanya keterputusan antara elite politik dan realitas sosial masyarakat bawah,” kata Rahman.
PMII Jember mengecam keras tindakan Syahri dan mendesak Badan Kehormatan DPRD Kabupaten Jember untuk membuktikan keberpihakan terhadap marwah lembaga, dengan proses yang terbuka, objektif, dan transparan kepada publik.
“Kami juga mendesak pimpinan DPRD Kabupaten Jember menghentikan budaya permisif terhadap perilaku tidak etis di ruang sidang. Pembiaran terhadap tindakan semacam ini hanya akan mempercepat runtuhnya kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif,” kata Rahman.
PMII mendesak seluruh anggota DPRD Kabupaten Jember untuk melakukan refleksi moral atas fungsi representasi yang mereka emban. “Jabatan politik bukan simbol kehormatan pribadi, melainkan mandat penderitaan rakyat yang harus diperjuangkan secara serius,” kata Rahman.
Terakhir, PMII mengajak masyarakat sipil, mahasiswa, media, dan organisasi sosial untuk terus mengawasi kinerja DPRD Kabupaten Jember. “Tujuannya aagar lembaga legislatif tidak berubah menjadi institusi yang sibuk mempertontonkan seremonial politik namun kehilangan keberpihakan terhadap persoalan rakyat,” kata Rahman.
Syahri tertangkap kamera jurnalis warga sedang bermain game daring sembari merokok, saat Komisi D sedang menggelar rapat dengar pendapat dengan Dinas Kesehatan,.Dinas Sosial, Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan, dan sejumlah puskesmas tentang campak, tengkes, dan beberapa persoalan kesehatan.
Muhammad Yunus, seorang jurnalis warga pengelola media sosial berakun Pak Jitu, sebenarnya mengabadikan video legislator Partai Keadilan Sejahtera Achmad Dhafir Syah yang sedang bicara.
Namun kebetulan Yunus mengambil video itu dari dekat tempat duduk Syahri. Otomatis apa yang dilakukan Syahri pun kena tangkap kamera ponsel Yunus juga. Begitu video tangkapan Yunus diunggah di media sosial, Selasa (12/5/2026), kehebohan pun meledak.
Ketua DPC Gerindra dan Ketua DPRD Kabupaten Jember Ahmad Halim menegaskan, akan ada serangkaian proses untuk menindaklanjuti peristiwa tersebut. “Tidak menutup kemungkinan ada sanksi dari partai, seperti teguran, sanksi administrasi, disiplin,” katanya.
Syahri sendiri meluncurkan video berisi permintaan maaf terbuka kepada masyarakat. Dia siap menerima sanksi dari DPRD Jember dan Gerindra. “Saya khilaf,” katanya. [wir/aje]






