Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswi Psikologi Untag Surabaya, Deajeng Rizqi Melly Tsaniyah meneliti hubungan kesadaran diri dan kebahagiaan dengan resiliensi pada korban kekerasan seksual. Hasilnya, ada korelasi cukup kuat di antara keduanya.
Ajeng menjelaskan, berdasarkan hasil perhitungan regresi berganda memakai bantuan program SPSS for Windows versi 25.0, penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan signifikan dan searah dengan tingkat koefisien korelasi sebesar 0.706 yang bernilai positif.
Lewat penelitiannya ini, ia pun mengajak para korban kekerasan seksual untuk lebih memiliki kesadaran diri dan resiliensi. Ajeng meminta agar para korban berani merancang pencapaian di masa depan. “Mari tingkatkan kesadaran diri terhadap masa lalu, masa sekarang, dan beranilah untuk merancang pencapaian di masa depan,” ujarnya, Kamis (23/2/2023).
[berita-terkait number=”5″ tag=”untag”]
Ajeng menyebut, bahwa ke depan dirinya berencana untuk mempublikasikan penelitiannya dalam bentuk jurnal agar bisa dilanjutkan oleh peneliti lain. Di sisi lain, dirinya juga ingin memberikan literasi terkait isu tersebut. “Karena korban pelecehan seksual membutuhkan dorongan, motivasi serta dukungan untuk pulih dan bertahan menjalani kehidupan,” ungkapnya.
Diketahui, dalam proses penelitiannya sendiri, Ajeng bekerjasama dengan Women Crisis Centre (WCC) Dian Mutiara Kota Malang dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Kependudukan (DP3AK) Jatim. Sebab, Ajeng sengaja ingin mengetahui keterkaitan isu tersebut di Kota Malang dan Surabaya. “Subjek penelitian saya berjumlah 108 orang dan saya dapatkan dari LSM yang bekerja sama dengan komunitas yang saya ikuti,” katanya.
Adapun judul penelitian Ajeng tersebut adalah ‘Hubungan Antara Self Awareness dan Kebahagiaan Dengan Resiliensi Pada Korban Sexual Harasshment’. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif menggunakan pendekatan korelasional.
Menariknya lagi, Ajeng menghimpun bahwa data Komnas Perempuan dalam Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), menyebut bahwa Indonesia rentan terhadap kekerasan seksual. Hal itu terbukti dengan tingginya jumlah kasus pelecehan seksual, yakni 27.259 kasus pada 2022 sejak lima tahun terakhir. [ipl/kun]






