Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswi asal Bangkok, Thailand, Monthita Boonmaloet berhasil meraih predikat wisudawan terbaik pada program Magister Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97.
Pencapaian akademik ini diraih setelah ia melewati berbagai kendala. Monthita pertama kali tiba di Indonesia pada 2019 tanpa memiliki kemampuan berbahasa Indonesia sama sekali.
Kendala bahasa tersebut memaksa Monthita untuk beradaptasi keras dengan lingkungan akademik kampus. Monthita mengatakan hambatan komunikasi tersebut tidak mematahkan semangat belajarnya.
“Ketika pertama kali datang ke Indonesia, kemampuan bahasa Indonesia saya benar-benar masih nol. Namun, saya tidak pernah menyerah karena memiliki keinginan kuat,” ungkap Monthita, Minggu (1/11/2026).
Situasi perkuliahan semakin berat ketika pandemi Covid-19 melanda dan mengharuskannya pulang ke negaranya. Ia memanfaatkan masa jeda tersebut untuk mengikuti kursus bahasa Indonesia secara intensif.
Keputusannya mengikuti kursus membuahkan hasil nyata saat ia kembali ke Surabaya pada 2021. Monthita menjelaskan masa pascapandemi justru membentuk kemandiriannya di lingkungan kampus.
“Masa paling sulit adalah setelah pandemi, ketika saya harus menjalani kehidupan sebagai satu-satunya mahasiswi perempuan asal Thailand di Surabaya. Saya belajar bangkit,” tuturnya.
Tekanan akademik selama masa pandemi sempat membuat sejumlah mahasiswa asal Thailand di angkatannya memilih berhenti kuliah. Kondisi ini justru memacu tekad belajarnya sampai tuntas.
Selain motivasi internal, Monthita juga melihat potensi besar pada keilmuan yang ia ambil. Ia menjelaskan kajian hukum ekonomi syariah belum banyak tersedia di Thailand.
“Saya yakin ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan selama belajar di Indonesia akan sangat bermanfaat bagi saya di masa depan,” kata Monthita.
Dukungan penuh dari dosen dan International Office Umsura turut mempermudah proses adaptasinya. Layanan kampus membantu Monthita mengatasi berbagai kendala administrasi maupun persoalan akademik keseharian.
Setelah menyelesaikan studi magisternya, ia berencana pulang ke Thailand untuk meniti karir. Monthita berharap bisa menerapkan ilmunya di perusahaan yang berafiliasi dengan Indonesia.
“Bagi saya, penghargaan ini seperti akhir dari penantian panjang. Saya menganggap pencapaian ini sebagai hadiah untuk diri sendiri atas segala usaha,” tegasnya.
Pengalaman belajar di Surabaya kini menjadi bekal kuat bagi Monthita. Ia membuktikan bahwa tantangan bahasa dan budaya asing bisa ditaklukkan dengan konsistensi belajar. [ipl/but]






