Jember (beritajatim.com) – Mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember memanfaatkan tulang ikan untuk mencegah stunting atau tengkes di kalangan masyarakat pesisir Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Jawa Timur, dalam program Gubuk Pemuda.
Tulang ikan tongkol tersebut diolah menjadi nugget dan camilan. Pemilihan jenis olahan ini disesuaikan dengan hasil observasi mahasiswa. “Di daerah pesisir ini banyak limbah tulang ikan tongkol berserakan. Kami berpikir bagaimana tulang ikan itu tidak berserakan dan menimbulkan infeksi lingkungan yang menyebabkan faktor risiko gizi kurang,” kata Fahriya Yuga Maulida, Ketua Tim Tim Program Penguatan Kapasitas Badan Perwakilan Mahasiswa FKM Universitas Jember, ditulis Kamis (28/9/2023).
Tulang ikan tongkol, menurut Fahriya, memiliki kandungan kalsium. “Sumber kalsium bisa jadi pendukung untuk mencukupi status gizi balita,” katanya.
Pembuatan nugget tulang ikan tongkol ini sama seperti halnya pembuatan nugget lainnya. “Tapi kami menggunakan bahan dasar jamur. Biasanya kan bahan dasarnya ayam. Kami pilih jamur karena punya kandungan gizi yang baik untuk ibu hamil. Ibu hamil kan harus berfokus pada seribu hari pertama kelahiran. Selain itu harga jamur lebih murah daripada daging ayam,” kaya Fahriya.
Fahriya berharap produk mahasiswa ini bisa diolah warga menjadi makanan khas pesisir untuk dijadikan buah tangan dan dijual di warung-warung. “Harapan kami produk ini bisa jadi sejenis oleh-oleh untuk kawasan pesisir Dusun Watu Ulo, Desa Sumberejo,” katanya.
Para mahasiswa juga menggerakkan 20 kader ibu muda di desa tersebut untuk meningkatkan kepedulian warga terhadap kesehatan. Mereka juga menyosialisasikan kepada warga agar tidak menikah dalam usia terlampau muda. “Karena itu kan menjadi faktor gizi kurang atau stunting,” kata Fahriya.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember Farida Wahyu Ningtyas mengatakan, pemilihan Sumberejo sebagai tempat program dikarenakan posisi desa ini sebagai lokus stunting. “Stuntingnya sekitar dua persen, tapi untuk gizi kurang sebagai faktor risiko stunting besar,” katanya, usai peresmian program Gubuk Pemuda Tim PPK BPM Fakultas Kesehatan Masyarakat Unej, di Balai Desa Sumberejo, Rabu (27/9/2023).
Farida mengatakan, nelayan bingung untuk mengolah hasil laut hasil tangkapan. “Biasanya dijual. Padahal kalau bisa diolah dan jangka panjang, hasil laut itu bisa berkelanjutan dan tidak habis hari itu saja. Kalau tujuannya hanya dijual, harga seberapapun diterima. Tapi kalau bisa diolah, produk itu bernilai ekonomis,” katanya.
Program ini berlangsung sejak Agustus hingga Desember 2023. “Harapannya pada akhir Desember nanti, masyarakat bisa mandiri untuk sehat, dan produknya bisa establish. Kami berharap produk bernilai ekonomis ini bisa dipasarkan, karena Desa Sumberejo ini juga desa wisata. Jadi tidak hanya sehat masyarakatnya, tapi desa yang mampu secara ekonomi,” kata Farida.
Farida menegaskan, pembuatan nugget dan camilan ini sangat mudah. “Tinggal bagaimana ini terus dikawal sehingga pada saat akhir kegiatan jadi produk yang bisa dipasarkan dan bermanfaat bagi keluarga. Harapannya keluarga nelayan tidak kekurangan asupan makanan,” katanya.
FKM berharap 20 orang ibu muda yang menjadi kader Gubuk Pemuda bisa memperluas pengetahuan kepada keluarga nelayan lainnya. “Jadi ini bisa berkembang menjadi kelompok-kelompok kecil,” kata Farida.
Camat Ambulu Gatot Suharyanto mengapresiasi program FKM Unej. Berdasarkan hasil pantauan Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), ada 58 kasus stunting di Desa Sabrang dan Sumberejo. “Kami memberi bantuan berupa susu dan vitamin, serta mengikuti perkembangan anak tersebut,” katanya.
Gatot membenarkan, seharusnya tidak ada kasus tengkes di Sumberejo. “Kita pusat ikan di wilayah selatan. Tapi memang semua kembali ke perilaku masyarakat,” katanya.
Gatot setuju untuk mengembangkan produk yang diperkenalkan mahasiswa kepada masyarakat. “Supaya di samping masyarakat memperoleh penghasilan dari kegiatan UMKM, masyarakat yang mengalami masalah stunting bisa diatasi,” katanya.
Selain Sumberejo, Gatot menilai Desa Pontang, Sabrang, dan Andongsari juga membutuhkan pendampingan kampus. “Monggo kita koordinasikan, mungkin ada program lain terkait penurunan stunting di wilayah kami,” katanya. [wir]






