Jember (beritajatim.com) – Mahasiswa Universitas Jember menggagas penggunaan tari Lahbako untuk pembelajaran fisika bagi pelajar sekolah di Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ide ini mendapat penghargaan dari Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi.
Tari Lahbako adalah tarian khas Jember yang diciptakan seniman Jogjakarta Bagong Kusudiardjo. Para mahasiswa yang terdiri atas Safina Aulia Sani, Nilam Cahya Kusumaningtyas, Rike Dwi Wulandari, Zhahrotun Nurroniah, dan Sakti Kalisa Sefanda merancang media pembelajaran fisika menggunakan augmented reality dari tari tradisional tersebut.
Dengan aplikasi yang dibuat oleh Safina dan kawan-kawan itu, guru dan siswa bisa merasakan pengalaman interaktif melalui media visual sains yang memadukan antara tari Lahbako dengan konsep fisika. Setelah sempat gagal dalam beberapa kali uji coba, aplikasi ini mendapatkan pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2023 yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan.
Ini bukan satu-satunya inovasi yang didanai Direktorat Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Diana Kamalia, Ega Bonansyah Utoyo, Amar Ma’ruf Al Bawani, Jalis Syarifah, dan Taufiqurrohman yang tergabung dalam tim PKM Pengabdian Masyarakat membuat media pembelajaran yang mempermudah siswa tuna rungu dalam belajar.
Mereka memberikan edukasi literasi sains dan budaya pandhalungan menggunakan media pembelajaran 3D Up Book berbasis Arduino kepada siswa Sekolah Luar Biasa Negeri Jember. “Media pembelajaran yang kami buat tidak hanya menarik secara visual, namun juga memberikan pengalaman membaca yang imersif,” kata Diana, sebagaimana dilansir Humas Unej, Jumat (22/9/2023).
Konten media pembelajaran ini menampilkan warna yang kontras dan format tiga dimensi. “Dengan demikian siswa tertarik untuk membaca dan menjelajahi lebih detail apa yang dijelaskan dalam buku,” kata Diana.
Inovasi lainnya datang dari Kevin Cahya Andilla Unwaru, Nidya Nur Mashitoh, Tika Widiya Ningrum, Nadiah Putri Anggraeni, dan Naili Afkarina. Mereka mengembangkan sepuluh media dalam satu kotak untuk meningkatkan literasi numerasi dengan tetap mengusung kebudayaan lokal Pandalungan. Kesepuluh media yang dibuat oleh Kevin dan kawan-kawan memuat nilai kearifan lokal, di antaranya adalah tari Lahbako, lukisan daun tembakau, tari remo, dan berbagai peribahasa Indonesia.
“Kehadiran beberapa media pembelajaran ini tentunya akan banyak memberikan pengalaman yang interaktif antara guru dan siswa di kelas dalam proses pembelajaran,” kata Lailatul Nuraini, dosen pembimbing dari ketiga tim ini yang berasal dari Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Dia berharap karya para mahasiswa itu dapat meningkatkan minat dan motivasi siswa agar lebih mencintai budaya Indonesia sendiri, khususnya budaya Pandalungan. [wir]






