Malang (beritajatim.com) – Masalah pencemaran lingkungan akibat limbah tambak udang vaname yang mengandung senyawa beracun seperti nitrat, nitrit, dan amonia, kini menemukan titik terang. Tim yang terdiri dari lima mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berhasil mengembangkan inovasi canggih berbasis bahan limbah untuk menetralisir racun tersebut.
Inovasi yang diberi nama NanoChito ini merupakan hasil riset yang diketuai oleh Muhammad Khoirul Anam, mahasiswa Jurusan Akuakultur UMM. Uniknya, solusi ini justru datang dari limbah udang itu sendiri, yakni chitosan dari cangkang udang yang dipadukan dengan karbon aktif dari tempurung kelapa dan Magnesium Oksida (MgO).
Gagasan ini lahir dari keprihatinan terhadap metode pengelolaan limbah tambak konvensional. Selama ini, banyak petambak hanya mengandalkan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang sekadar mengendapkan partikel padat, namun tidak menghilangkan senyawa toksik terlarut di dalam air.
“Orang-orang biasanya hanya mengandalkan IPAL untuk mengendapkan limbah, padahal air itu kan masih mengandung residu berbahaya,” ungkap Anam menjelaskan latar belakang penelitia pada Senin (29/9/2025).
NanoChito bekerja sebagai adsorben atau spesialis penarik racun di dalam air tambak. Inovasi ini berbentuk serbuk nanokomposit yang menggabungkan kekuatan tiga bahan utama.
Bahan pertama Chitosan, Berasal dari cangkang udang, bahan ini menyediakan gugus fungsi yang aktif mengikat molekul-molekul toksik. Kedua, karbon aktif, diambil dari tempurung kelapa, material ini berfungsi layaknya spons super dengan pori-pori dan luas permukaan yang tinggi untuk memerangkap racun. Keempat, magnesium oksida (MgO), berperan memperkuat struktur nanokomposit sekaligus meningkatkan kemampuan penyerapannya.

Ketika serbuk NanoChito ditebar ke air limbah, senyawa beracun seperti nitrat (NO_3^−), nitrit (NO_2^−), dan amonia (NH_3) akan terikat kuat pada permukaan dan pori-pori nanokomposit. Proses adsorpsi ini secara efektif membersihkan air dari metabolit toksik, membuatnya lebih aman bagi lingkungan.
Keunggulan utama NanoChito terletak pada konsepnya yang berkelanjutan. Inovasi ini tidak hanya menyelesaikan satu masalah limbah, tetapi juga memanfaatkan limbah lain (cangkang udang dan tempurung kelapa) menjadi produk bernilai guna.
Metode ini terbukti lebih efektif dan ramah lingkungan dibandingkan cara konvensional lain seperti penggunaan pupuk sintetis atau bakteri, yang seringkali hanya mampu mengurangi bau tanpa menghilangkan kadar racunnya.
Proyek yang dikembangkan melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) bidang Riset-Eksakta ini mendapat bimbingan penuh dari dosen Soni Andriawan, S.Pi., M.P., M.Sc. Anam menegaskan peran penting dosen pembimbing dalam memberikan arahan dan masukan kritis selama proses penelitian.
Tim berharap inovasi ini tidak hanya berhenti di laboratorium. Mereka bercita-cita agar NanoChito dapat diproduksi secara massal dan dimanfaatkan secara luas oleh para pembudidaya udang di seluruh Indonesia.
“Harapan kami, NanoChito dapat menjadi solusi berkelanjutan yang aman, efektif, dan terjangkau bagi para petambak,” tutup Anam. [dan/aje]






