Malang (beritajatim.com) – Mahasiswa Program Studi Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali menunjukkan kiprahnya dalam dunia inovasi. Melalui kuliah pakar bertajuk “Inovasi Nutrisi dan Pakan Ternak untuk Peternakan Berkelanjutan” yang digelar pada 26 Juli 2025, mereka memamerkan berbagai produk inovatif buatan sendiri, yang tak hanya ramah lingkungan, tetapi juga efisien dan adaptif terhadap kebutuhan industri peternakan modern.
Acara ini tak sekadar forum akademik, melainkan juga menjadi bagian dari praktikum mata kuliah Pakan dan Teknologi Pakan. Di sinilah para mahasiswa menampilkan hasil riset dan eksperimen mereka dalam bentuk produk pakan ternak yang dikembangkan secara langsung di lingkungan kampus.
Beberapa karya yang mencuri perhatian antara lain MBP (Milkbooster ProMix), pakan untuk sapi perah dengan kandungan energi, protein, serat, vitamin, dan mineral lengkap. Produk ini dirancang untuk meningkatkan volume dan kualitas susu selama masa laktasi.
Selain itu, terdapat Mafeed (Maggot Feed Layer) sebagai pakan alternatif untuk ayam petelur yang berbasis maggot, serta Havpaya Feed, pakan peningkat nafsu makan untuk domba dan kambing berbahan tepung daun pepaya dan biji haver.
Kegiatan tahunan ini diikuti puluhan mahasiswa dan menghadirkan dua narasumber pakar di bidang pakan ternak. Mereka adalah Ir. Yahya M. Sofwan, S.Pt, MP, IPM, seorang konsultan nutrisi ternak, serta Samsul Hadi Santoso, General Manager Koperasi Agro Niaga (KAN). Keduanya memberikan wawasan mendalam tentang tantangan dan solusi dalam formulasi pakan ternak modern.
Dalam pemaparannya, Yahya menekankan pentingnya efisiensi dalam formulasi pakan ayam petelur. Ia menjelaskan jenis-jenis pakan seperti mash, crumble, hingga kibble, serta dampak penggunaan bahan baku seperti sorgum, gandum, dan jagung terhadap nilai nutrisi. Ia juga mengenalkan konsep phase feeding untuk mengoptimalkan performa ayam dengan tetap mempertahankan efisiensi biaya.
“Industri pakan ternak saat ini sedang menghadapi disrupsi besar. Maka, teknologi evaluasi pakan yang cepat dan akurat menjadi sangat penting untuk menjaga kualitas dan menekan biaya produksi,” tegas Yahya.
Sementara itu, Samsul Hadi menyoroti pentingnya formulasi pakan sapi perah yang presisi. Ia menekankan bahwa efisiensi nutrisi harus dihitung dengan mempertimbangkan bobot badan, status reproduksi, performa tubuh, kadar lemak, serta tingkat produksi susu sapi. Menurutnya, kalkulasi yang tepat menjadi kunci efisiensi biaya tanpa mengorbankan kualitas pakan maupun hasil ternak.
Dosen pengampu mata kuliah, Prof. Dr. Ir. Indah Prihartini, MP., IPU, menyampaikan bahwa kuliah pakar ini dirancang tidak hanya untuk memperkaya teori, tetapi juga menguatkan praktik mahasiswa agar siap menghadapi tantangan industri peternakan masa depan. Ia menegaskan bahwa pendekatan pembelajaran berbasis proyek yang diterapkan Prodi Peternakan UMM selama tujuh tahun terakhir telah membuahkan hasil yang signifikan.
“Melaui proyek ini, mahasiswa kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga mengasah teamwork, pemikiran kritis, hingga kemampuan wirausaha. Produk yang dihasilkan sangat inovatif dan berorientasi pada keberlanjutan. Bahkan banyak yang berhasil menembus Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tingkat nasional,” ungkap Indah.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata komitmen UMM dalam membentuk generasi peternak muda yang siap menjawab tantangan sektor pertanian dan peternakan berkelanjutan, melalui pendekatan teknologi, kreativitas, dan inovasi ramah lingkungan. [dan/aje]






