Banyuwangi (beritajatim.com)- Desa Blambangan, Kecamatan Muncar, Banyuwangi, menjadi pusat perhatian masyarakat pada Minggu (10/8) dengan digelarnya Blambangan Watermelon Festival.
Festival ini digagas oleh sepuluh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Jember (UMD) yang beranggotakan 10 mahasiswa bernamakan Febrian Amril Wahit, Kharisma Citra Pitaloka, Felisa Rahmadani Putri, Ikzan Rifki Dwi Chayo, Eka Julia Nur Azizah, Nur Anggi Istiya Devi, Riyanto, Septian Bintang Cahyo, Bunga Fitriasa, dan Indah Nur Aini yang berkolaborasi dengan Karang Taruna serta BUMDes setempat.
Bertepatan dengan musim panen raya semangka, kegiatan ini menjadi ajang promosi sekaligus perayaan potensi pertanian desa yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi warga.
Eka Julia Nur Azizah, salah satu perwakilan KKN UMD, mengungkapkan bahwa festival ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga strategi untuk membangun citra desa sebagai sentra pertanian semangka berkualitas.
“Blambangan Watermelon Festival kami gagas bersama Karang Taruna untuk mem-branding potensi pertanian desa kepada khalayak umum. Program ini sejalan dengan salah satu program utama Presiden Prabowo Subianto terkait ketahanan pangan,” jelasnya.
Mayoritas warga Desa Blambangan berprofesi sebagai petani, dengan komoditas semangka sebagai hasil utama. Lahan yang subur dan dukungan cuaca membuat kualitas semangka lokal memiliki daya saing tinggi. Melalui festival ini, potensi tersebut diharapkan dapat menjadi identitas desa yang mampu dikenal hingga ke tingkat nasional.
Festival ini berlangsung meriah dengan rangkaian acara yang menyasar semua kalangan. Untuk anak-anak, diadakan lomba mewarnai maskot tingkat TK se-Desa Blambangan. Bagi kalangan ibu-ibu, digelar lomba menghias semangka (fruit carving) yang menampilkan kreativitas tinggi.
Sementara itu, acara puncak adalah kontes semangka yang menilai tiga aspek utama: tingkat kemanisan, berat, dan penampilan. Dari hasil penjurian, Bapak Winarno berhasil meraih gelar juara umum. Kategori semangka termanis dimenangkan oleh Bapak Siswanto dengan varietas Kurnia yang memiliki nilai brix 12.
Kategori terberat dimenangkan oleh Ayahmax dengan varietas Madrid seberat 7,695 kilogram. Sedangkan kategori penampilan paling menarik diraih oleh Bapak Ahmad Sahril dengan varietas Madrid yang memperoleh nilai estetika 80 dari aspek bentuk dan warna.
Tak hanya lomba, festival ini juga menjadi wadah untuk memperkenalkan inovasi produk olahan semangka hasil kolaborasi antara Bapak Trubus salah satu petani dan mahasiswa KKN. Produk SMANCAU (Semangka Cincau) dan SMADA (Semangka Soda) menjadi daya tarik baru bagi pengunjung. Kedua produk ini diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah semangka sekaligus membuka peluang pasar baru bagi petani.
Antusiasme masyarakat terlihat jelas dari dukungan penuh yang diberikan. Badrus, Ketua Karang Taruna Desa Blambangan, berharap festival ini dapat menjadi agenda rutin yang masuk dalam kalender Banyuwangi Festival pada tahun mendatang. “Bertepatan dengan momentum hari kemerdekaan RI ini, kami ingin festival ini menjadi kegiatan tahunan yang mengangkat nama desa,” ujarnya. Dukungan serupa disampaikan oleh Ponco Sudarsono, Koordinator Masyarakat Sukosari, yang menilai kegiatan ini sebagai langkah positif untuk mendorong petani agar terus berinovasi dan meningkatkan kualitas hasil panen.
Ponco Sudarsono, selaku koordinator Masyarakat Sukosari juga menambahkan, “Kami sangat menerima gagasan dari teman-teman KKN Universitas Jember karena memiliki tujuan yang baik untuk memperkenalkan potensi desa Blambangan. Kami berharap melalui acara ini, petani semangka di desa Blambangan akan semakin berkembang dan lebih berinovasi dalam peningkatan kualitasnya.”
Festival ini juga bertepatan dengan peringatan hari kemerdekaan RI ke-80, yang menambah semarak acara.
Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya semangat nasionalisme dan kebersamaan dalam mengembangkan potensi daerah. Melalui kegiatan ini, diharapkan masyarakat dapat bersatu untuk memajukan desa dan meningkatkan kesejahteraan bersama.
Harapannya “Blambangan Watermelon Festival” bukan hanya sekadar festival, tetapi merupakan langkah awal untuk mengangkat potensi pertanian semangka di Desa Blambangan. Bermodalkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk mahasiswa KKN, masyarakat, dan pemerintah, diharapkan festival ini dapat menjadi agenda tahunan yang tidak hanya merayakan hasil pertanian, tetapi juga memperkuat rasa kebersamaan dan nasionalisme.
Berdasarkan semangat yang tinggi, para petani semangka di Desa Blambangan siap untuk berinovasi dan meningkatkan kualitas produk mereka. Festival ini adalah bukti bahwa dengan kerja keras dan kolaborasi, potensi desa dapat diangkat dan dikenal oleh masyarakat luas. Mari kita dukung dan apresiasi para petani yang telah berkontribusi dalam menggerakkan ekonomi lokal dan menjaga ketahanan pangan. [Kharisma Citra Pitaloka]






