Malang (beritajatim.com) – Inovasi teknologi pertanian kembali lahir dari kampus. Dua mahasiswa Universitas Brawijaya (UB), Gabriel Salindeho (Agroekoteknologi) dan Muhammad Rizky Alfiansyah (Kimia), berhasil menorehkan prestasi gemilang di kancah nasional.
Keduanya sukses membawa ide bisnis mereka ke jajaran Top 7 kompetisi Pertamuda 2025 yang diselenggarakan oleh Pertamina. Prestasi ini diraih setelah melalui seleksi ketat, mengalahkan 3.505 ide bisnis lain dari seluruh Indonesia, melalui proses panjang dari Bootcamp hingga Final Pitch.
Inovasi yang mereka usung adalah AgroPlus.ID, sebuah aplikasi digital berbasis Artificial Intelligence (AI) yang dirancang untuk menjadi dokterbagi tanaman. Aplikasi ini diklaim mampu mendeteksi hama, penyakit, serta menganalisis kandungan unsur hara hanya dari daun tanaman.
Ide brilian ini ternyata lahir dari sebuah keresahan sederhana. Gabriel menceritakan, inspirasi datang dari keluhan seorang teman petani mengenai rendahnya pendapatan yang diterima setelah berbulan-bulan menggarap lahan.
Rasa penasaran ini mendorong mereka untuk melakukan validasi lapangan. “Kami mulai validasi ke lahan UB Forest di Desa Sumberwangi dan bertemu salah satu petani di sana,” ujar Gabriel pada beritajatim.com, Rabu (12/11/2025).
Setelah berkonsultasi dengan dosen pembimbing, Dr. Moch. Syamsul Hadi, SP., MP., mereka berhasil memetakan akar masalah yang selama ini menjerat petani. Permasalahan utamanya adalah hadirnya tengkulak yang tidak adil, tingginya biaya perawatan akibat penggunaan pupuk dan pestisida yang masif, serta ancaman gagal panen yang konstan.
AgroPlus.ID hadir untuk memangkas salah satu masalah terbesar tersebut berupa biaya perawatan. Aplikasi ini diharapkan dapat menekan penggunaan pupuk dan pestisida berlebih dengan memberikan data akurat berdasarkan deteksi dini.
“Inilah yang tim AgroPlus.ID jadikan riset. Bagaimana kita bisa memangkas penggunaan pupuk dan pestisida tersebut dengan solusi yang simpel dan mudah,” jelas Gabriel.

Cara kerja aplikasi ini dirancang sangat praktis untuk petani. Pertama, unduh aplikasi. Kedua, pindai tanaman atau unggah foto daun (dengan metode sampling). Ketiga, hasil analisis data unsur hara dan deteksi hama penyakit akan langsung dilampirkan.
Proyek ini tidak berhenti sebagai gagasan kompetisi. Dosen Pembimbing, Dr. Moch. Syamsul Hadi, menegaskan bahwa AgroPlus.ID akan digarap secara serius.
“Kami akan membentuk tim legal dan mengajukan hak paten atau Hak Kekayaan Intelektual (HAKI). Saat ini, aplikasi telah didesain user-friendly agar memudahkan petani,” jelas Syamsul Hadi.
Ia juga mengakui bahwa tantangan ke depan adalah diferensiasi, mengingat aplikasi serupa mungkin mulai bermunculan.
“Kedepannya akan dikembangkan model lain. Tidak hanya diferensiasi kebutuhan nutrisi dan deteksi penyakit, tapi juga yang dapat menyentuh masalah ekosistem petani dari hulu ke hilir,” tambahnya.
Inovasi ini dilaporkan telah menarik perhatian investor. Untuk mendukung realisasi dan dampaknya, AgroPlus.ID akan diluncurkan di Google Play pada bulan Januari mendatang.
Muhammad Rizky Alfiansyah, salah satu inisiator, menutup dengan pesan kuat tentang pentingnya eksekusi ide.
“Inovasi tanpa realisasi dan dampak adalah sia-sia. Saya percaya UB banyak mahasiswa pintar, tapi jarang banget mahasiswa pintar yang berempati,” tegasnya.
Sebagai informasi, program Pertamuda Seed & Scale 2025 sendiri merupakan komitmen Pertamina untuk mendukung lahirnya wirausahawan muda yang berdaya saing dan berkelanjutan di Indonesia. (dan/but)






