Surabaya (beritajatim.com) – Mahasiswa PKM-PM Unesa memberikan edukasi anti-perundungan bagi anak-anak di Kampung Pelangi, Surabaya. Edukasi dikemas dengan cara yang menyenangkan dan mudah dipahami.
“Kami ingin memastikan setiap anak di mana pun berada, berhak untuk mendapatkan pengetahuan tentang perundungan dan cara-cara mengatasinya,” kata Ketua Tim PKM-PM Unesa Elsa Nabila, Rabu (10/7/2024).
Elsa menjelaskan, edukasi dikemas dengan menarik. Yakni membungkus pesan anti-perundungan dalam balutan seni dan budaya yang familiar bagi anak-anak, seperti dongeng, nyanyian, dan permainan tradisional.
“Melalui seni dan budaya, kami ingin anak-anak di Kampung Pelangi belajar tentang perundungan dengan cara menyenangkan dan mudah dipahami, serta dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, edukasi anti-perundungan ini mengusung tema ‘Wandersea’, di mana kegiatannya menggunakan pendekatan psikologi. Program Wondersea ini dibagi menjadi beberapa kegiatan.
Pertama, Wander Self: Kegiatan berbasis dongeng dan motivasi agar anak-anak dapat mengenali diri dan memiliki mimpi-mimpi. Kedua, Wander Honesty: Kegiatan mengenali emosi dan mengekspresikan perasaan melalui tulisan.
Ketiga, Wander Heroes: Kegiatan yang meningkatkan sikap social-awareness, keberanian, dan kepemimpinan sasaran melalui role play menjadi pahlawan nusantara. Keempat, Wander Indonesian Games: Kegiatan peningkatan relationship skills sasaran melalui permainan tradisional.
Kelima, Wander Parenting Day: Program khusus orang tua untuk meningkatkan pemahaman pengasuhan yang baik dan membangun lingkungan keluarga yang suportif.
Keenam, Wonderful Day of Wandersea: Deklarasi anti-perundungan yang diramaikan dengan kegiatan melukis tembok, permainan wonderland, dan penampilan bakat anak-anak.
Tim PKM-PM Unesa berharap program ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam memerangi perundungan di masyarakat, khususnya di Kampung Pelangi.
“Dengan edukasi yang tepat dan metode yang kreatif, kami yakin generasi muda dapat tumbuh menjadi individu yang saling menghormati dan bebas dari perundungan,” tutur Elsa.
Program ini juga mendapat respon positif dari masyarakat Kampung Pelangi. Mereka menilai program ini sangat bermanfaat untuk anak-anak setempat.
“Penyampaiannya yang kreatif dan menyenangkan membuat anak-anak lebih mudah memahami materi tentang perundungan dan cara-cara untuk mengatasinya,” ujar Pandan, salah satu warga di Kampung Pelangi. [ipl/ian]






